30/05/2024
Koleksi Pustaka kali ini mengulas “Hadassah Emmerich, With Love from Batik Babe”. Monografi ini diterbitkan berkenaan dengan pameran dengan judul yang sama, di GEM, museum of contemporary art, The Hague, 26 Februari – 8 Mei 2005. Presentasi tersebut paralel juga dengan pameran H x B x D di Gemeentemuseum Den Haag, pada kesempatan ulang tahun ke-10 Rabo Art Collection. Penulis pada monografi ini adalah Roel Arkesteijn (kurator dari GEM museum of contemporary art) dan Cedar Lewisohn (perupa dan penulis, tinggal di Glasgow). Monografi dalam dua bahasa, Inggris dan Belanda. Penerbitnya adalah GEM, museum of contemporary art, The Hague, bekerja sama dengan Rabobank Nederland
Artistic Affairs.
Cedar Lewisohn membuka artikelnya dengan pernyataan, “Alih-alih memandang karya Hadassah Emmerich, kita sebaiknya menghirupnya, seperti kita menghirup bau segar halaman rumput yang baru disiangi…”. Pernyataan ini sehubungan dengan karya-karya Hadassah berupa gambar-gambar besar yang penuh dengan ornamen. Skala gambar seringkali lebih tinggi dari manusia; beberapa karyanya berupa mural yang membuat pelihat terlingkupi oleh skala tersebut. Roel Arkesteijn pun menggaris-bawahi hal yang sama,tentang dominasi motif-motif tanaman dalam karya-karya Hadassah. Menurutnya, salah kaprah jika kita memandangnya hanya sebagai persilangan antara seni dan kriya.
Hadassah Emmerich lahir di Heerlen, Belanda, kini tinggal dan bekerja di Brussel, Belgia. Ia punya ikatan dengan Indonesia, ayahnya lahir di Bandung dari orang tua perpaduan Sunda dan Jerman-Cina. Sebelum ia menyelesaikan studi sarjana di Akademi Seni Rupa Maastricht, ia menyempatkan melakukan perjalanan ke Indonesia, pada 1996. Sebelum ia benar-benar menginjakkan kakinya di Indonesia, ia melahap berbagai bacaan yang terkait Indonesia. Ia seperti yang “mencari Indonesia”. Apakah kemudian watak-watak dari karyanya bertautan dengan pencarian ini?
Arkesteijn menutup artikelnya dengan pernyataan bahwa Emmerich berhasil membebaskan dirinya dari dogma kemodernan yang cenderung mengharamkan segala ragam hias dalam karya. Hal ini membuat Emmerich jadi leluasa untuk memahami hidup itu sendiri.