08/08/2026
Kisah Kelam Revolusi Sosial Langkat: Ketika Perjuangan Berubah Menjadi Kekejaman
LANGKAT — Revolusi Sosial di Sumatra Timur pada 1946 menjadi salah satu episode paling kelam dalam sejarah Indonesia pascakemerdekaan. Gerakan yang pada awalnya membawa semangat perubahan sosial dan penghapusan feodalisme itu dalam praktiknya berkembang menjadi aksi kekerasan terhadap keluarga Kesultanan, termasuk di Langkat.
Di balik gejolak tersebut muncul sejumlah tokoh yang memimpin massa untuk menggulingkan kekuasaan kesultanan. Di Langkat, gerakan itu dipimpin Usman Parinduri, tokoh yang berasal dari Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pada dini hari 4 Maret 1946, laskar rakyat menyerbu Istana Sultan di Tanjung Pura. Bendera Kesultanan Langkat yang berwarna kuning diturunkan dan digantikan dengan Sang Saka Merah Putih. Istana kemudian dijarah dan diobrak-abrik.
Menurut kesaksian Bachtiar Siagian dalam memoarnya, pakaian milik Sultan yang tersimpan dalam lemari panjang hampir sepuluh meter turut menjadi sasaran. Para laskar bahkan mengambil pakaian tersebut dan mengganti pakaian mereka dengan busana milik Sultan.
Namun, kekerasan tidak berhenti pada pengambilalihan simbol-simbol kekuasaan. Sejumlah anggota keluarga Kesultanan Langkat mengalami perlakuan yang jauh lebih buruk. Tindakan penghinaan dan pelecehan terhadap keluarga kesultanan dinilai telah melampaui tujuan awal revolusi sosial.
Revolusi sosial sejatinya didorong oleh keinginan untuk merombak struktur sosial dan politik yang dianggap feodal. Akan tetapi, ketika kekerasan, penjarahan, dan tindakan sewenang-wenang mengambil alih gerakan, batas antara perjuangan politik dan tindakan kriminal menjadi semakin kabur.
Dua orang yang dianggap sebagai pemimpin revolusi sosial di Langkat kemudian dituduh melakukan tindakan yang mencemarkan tujuan gerakan. Mereka disebut telah melecehkan keluarga Kesultanan Langkat. Akibatnya, kedua tokoh tersebut akhirnya dijatuhi hukuman mati.
Peristiwa ini memperlihatkan sisi paradoks dari Revolusi Sosial Sumatra Timur. Di satu sisi, gerakan tersebut lahir dari tuntutan perubahan dan penolakan terhadap sistem feodal. Namun di sisi lain, sebagian aksi di lapangan justru melahirkan kekerasan dan tragedi kemanusiaan.
Kisah Langkat menjadi pengingat bahwa sebuah revolusi tidak hanya ditentukan oleh tujuan yang ingin dicapai, tetapi juga oleh cara yang digunakan untuk mencapainya.
Ketika semangat perubahan kehilangan kendali, revolusi dapat berubah menjadi kekacauan yang justru merusak nilai-nilai perjuangan itu sendiri.
Sejarah Revolusi Sosial Langkat akhirnya bukan sekadar cerita tentang runtuhnya sebuah kesultanan, tetapi juga tentang bagaimana kekuasaan, dendam sosial, dan kekerasan dapat bertemu dalam satu momentum sejarah—meninggalkan luka yang panjang bagi masyarakat dan keluarga-keluarga yang menjadi korbannya.