Sejarah Jogyakarta

Sejarah Jogyakarta Sejarah Djocjakarta dan kerajaan wangsa Mataram Islam

Dari permaisuri ketiga GKR Kencana, Sultan HB VII mempunyai 14 putra-putri :1. Gusti Pangeran Harya Mangkukusuma2. Gusti...
13/05/2026

Dari permaisuri ketiga GKR Kencana, Sultan HB VII mempunyai 14 putra-putri :

1. Gusti Pangeran Harya Mangkukusuma
2. Gusti Kanjeng Ratu Bendara I (bersuami KRT Suryadi, Ndalem Suryaden)
3. Gusti Pangeran Harya Tejokusumo (Ndalem Tejokusuman)
4. Gusti Pangeran Harya Notoprojo
5. Gusti Raden Mas Soehardi (wafat timur)

6. Gusti Kanjeng Ratu Dewi (Ndalem Wijilan/sekarang Museum Sonobudoyo di barat plengkung Wijilan) kelak beliau akan sering memdampingi adiknya, Sultan HB VIII setelah naik tahta dalam pelbagai acara kenegaraan.

7. Gusti Raden Ajeng Murkamsilah (wafat timur)
8. Gusti Kanjeng Ratu Bandara III (bersuami KRT Puspadiningrat, Ndalem Puspadiningratan)
9. Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono II (bersuami KRT Harjokusumo, Ndalem Harjokusuman)
10. Gusti Pangeran Harya Hadikusumo
11. Gusti Kanjeng Ratu Hemas (garwa padmi Sunan Pakubuwono X)
12. Gusti Kanjeng Ratu Timur (garwa padmi Mangkunagara VII)
13. Gusti Raden Mas Suatmaji
14. Gusti Raden Ajeng Murbilanatirin (wafat timur)

Jalur tahta secara eksklusif jatuh pada keturunan garwa padmi kedua Gusti Kanjeng Ratu Hemas, dimana keempat putranya secara berturut2 menjadi adipati anom (tetapi wafat dan sakit) sehingga yg keempat kali, yaitu Gusti Raden Mas Sujadi (Sultan HB VIII).

Mengapa? Karena Garwa Padmi Pertama GKR Kencana "kakebonakên" [ istilah halus untuk dicopot gelar dan fasilitas serta dipindahkan ke tempat di luar kraton, karena percobaan kraman ]. Ia kakebonaken di Madiun. Namanya berubah menjadi GKR Wandhan.
Dan nama Kencana dipakai garwa padmi ketiga.

Sumber :
Royalark
Serat Rajaputra

Kunjungan Sultan HB VII ke Surakarta disertai dengan abdi dalem Ampilan kakung (atau manggung?).Biasanya adi dalemnya ad...
12/05/2026

Kunjungan Sultan HB VII ke Surakarta disertai dengan abdi dalem Ampilan kakung (atau manggung?).

Biasanya adi dalemnya adalah wanita (yaitu yang sudah menapouse utk ampilan & gadis utk manggung).

Tetapi karena ini perjalanan ke luar wilayah (ingat, tatakrama jawa sampai tahun 80an adalah bahwa wanita kurang ilok lungå tanpa pengawal). Jadi memang selalu digantikan abdi dalem kakung.

Kalau kita zoom maka pakaiannya agak beda ya?

Gambar 3 hal yang sama berlaku di Kadipaten Mangkunegaran, saat Adipati MN VII menikahi putri sultan GKR Timoer maka dibawa abdi dalem ampilan kakung.

Gambar 4 lokasi Kedhaton Wetan dimana foto gambar 3 berlangsung.

KITLV

Sultan Hamengku Buwana VII saat berkunjung ke Kraton Surakarta Hadiningrat, diterima Susuhunan Pakubuwana X sekitar tahu...
10/05/2026

Sultan Hamengku Buwana VII saat berkunjung ke Kraton Surakarta Hadiningrat, diterima Susuhunan Pakubuwana X sekitar tahun 1900 awal.
Kemungkinan ini setelah acara dan akan kembali ke Yogyakarta dengan menaiki kareta Kasunanan (kurang jelas namanya) menuju Stasiun Balapan.
Kira2 seberapa sibuk ya panitya acara bilateral dua negara seperti ini. Yang pasti dalam gambar lain raja biasanya membawa penongsong (pembawa payung) dan abdi dalem ampilan (pembawa regalia) yg biasanya dibawa abdi dalem manggung (putri) maka untuk kunjungan ke luar negara biasanya dibawa abdi dalem kakung.

Kira2 bregada apa ya ?Terjemahannya "pas**an pengawal pribadi Sultan"Pakaian kuning, memakai semacam kotang antrakusuma ...
09/05/2026

Kira2 bregada apa ya ?
Terjemahannya "pas**an pengawal pribadi Sultan"
Pakaian kuning, memakai semacam kotang antrakusuma yg biasanya hanya sultan yg memakai!
Sumber :
Ein Leibgardist des Sultans von Djojocarta" (Pengawal Sultan Yogyakarta) dalam bahasa Jerman.

Ilustrasi ini bersumber dari buku "The History of Java" karya Thomas Stamford Raffles yang diterbitkan pada tahun 1817.

07/05/2026

Siapa pernah lewat sini?

Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) telah dilancarkan (byawara) oleh Sri Sultan HB IX Setiap tingkatan pendidikan akan mener...
04/05/2026

Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) telah dilancarkan (byawara) oleh Sri Sultan HB IX

Setiap tingkatan pendidikan akan menerima modul [ tingkat dasar, menengah & tinggi ].

Jika kita simak isi modulnya, maka ini sejenis pendidikan dengan nilai2 khas Jawa - khususnya Ngayugjan - jadi kelak siapa pun yg bersekolah di wilayah DIY akan memahami, misal sejarah Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat [ kapan hadeging nagari, kenapa, siapa Pangeran Mangkubumi dll ], Filosofi hingga praktik yg mungkin terasa sepele tapi sudah mulai pudar, misal ngapurancang, nderek langkung, kawruh basa, nembang tradisional dll.

Boleh dibilang ini sejenis "mulok" muatan lokal versi serius. Serius karena memadupadankan banyak sisi. Pelbagai nilai2 luhur diaplikasikan meliputi nilai2 Kasultanan Ngayogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Tentang hasilnya, kita evaluasi nanti.
Mangayubagya !

Byawara PKJ dilakukan pada Senin, 4 Mei 2026 di SMAN 6, Terban, Yogyakarta.
Dulu merupakan sma Ngarsa Dalem.

04/05/2026
Masih inget nggak 2 Mei Hari Pendidikan Nasional?"Als ik eens Nederlander was"  atau "Seandainya saya orang Belanda" Mer...
03/05/2026

Masih inget nggak 2 Mei Hari Pendidikan Nasional?
"Als ik eens Nederlander was" atau "Seandainya saya orang Belanda"

Merupakan tulisan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, putra keturunan Adipati Pakualaman, Yogyakarta dan dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913.

Sindiran tajamnya berbunyi :

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya.

Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.

Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk p**a kantongnya.

Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu!

Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun”

Soewardi mengirim telegram kepada Ratu Belanda berisi usulan untuk mencabut pasal 11 RR (Regerings Reglement – UU Pemerintahan Negeri Jajahan) yang melarang organisasi politik di Hindia-Belanda.

Akibatnya ia dibuang ke Belanda pada Oktober 1914. Dan akhirnya ia membawa R.A. Sutartinah, istrinya yang baru saja dinikahi menjalani bulan madu di pengasingan.

Ia juga dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, pendiri Tamansiswa, Bapak Pendidikan Nasional.

Copyright tulisan Sejarah Jogyakarta

Bagian 1Aerial View (tampak atas)Situs budaya KasultananMonggo kunjungi untuk wisata budaya
02/05/2026

Bagian 1
Aerial View (tampak atas)
Situs budaya Kasultanan
Monggo kunjungi untuk wisata budaya

Wah sekarang sudah dipagari sehingga tidak kena polusi dagangan pasar Legi !Tugu Pengetan Jumenengan Dalem Sultan Hameng...
29/04/2026

Wah sekarang sudah dipagari sehingga tidak kena polusi dagangan pasar Legi !

Tugu Pengetan Jumenengan Dalem Sultan Hamengkubuwono IX di Kotagede

Monumen Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX ini dikenal dengan sebutan "Pacak Suji".

Pembangunan monumen ini adalah wujud rasa hormat dan s**a cita masyarakat Kotagede atas bertahtanya/Jumenengan Dalem Sultan HB IX pada tahun 1940. Waktu itu, di atas tugu persegi ada lambang Keraton Ngayogyakarta, kemudian dihiasi dengan kain putih sebagai dekorasi.

Saat gempa tahun 2006 monumen ini sempat hancur dan telah dibangun kembali, sesuai bentuk awalnya.

Letaknya di timur Pasar Legi, Pasar tertua di Mataram. Tepatnya di Purbayan, Kotagede (KG I), Yogyakarta*

Ada yg bisa baca apa yg tertulis di monumen?

Nb
Daerah ini memiliki 3 tugu raja,
Tugu zaman HB VIII di depan Pegadaian sekitar pertigaan Tinalan arah Kleco/Karang.

Tugu jam PB X di seberang barat Pasar Kotagede (Mondorakan)

Dan tugu zaman HB IX di timur Pasar Kotagede ini.

Foto : Sejarah Jogya copyright

(SA)BRANG KULON/ MANCANAGARI  KULON NGAYOGYAKARTA  Dari peta 1810-1820 Figurative Schets van de Vorsten-landen (J.M Jouk...
26/04/2026

(SA)BRANG KULON/ MANCANAGARI KULON NGAYOGYAKARTA
Dari peta 1810-1820 Figurative Schets van de Vorsten-landen (J.M Joukes).

Brang Kulon adalah wilayah di barat Bagelen [ Bagelen adalah merupakan negaragung (dimiliki bersama)].

Mana saja itu?
Secara nama banyak yg sudah berubah, tetapi letaknya bisa dilacak dan nama tadi telah te-reduksi menjadi setingkat nama dusun atau desa. Atau telah hilang/jarang dipakai.

1. Kertonegoro/Kertanegara
Wilayahnya berada di timur laut (lor wetan) Purwokerto. Merupakan daerah paling barat milik Kasultanan. Kemungkinan saat ini menjadi Kecamatan Kertanegara, Kabupaten Purbalingga.

2. Purwonegoro/Purwanegara
Letaknya berada di timur Purbalingga dan di selatan Banjar(negara). Kemungkinan saat ini adalah Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara.

3. Remo/Rema
adalah nama lama dari Karanganyar. Pernah menjadi Kabupaten dan kini menjadi Kecamatan di Kabupaten Kebumen.

4.Selomanik
Sekarang desa Selomanik di Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo

5. Selomerto
Sekarang menjadi Kecamatan Selomerto, Wonosobo

6. Embokrawan (Belum terlacak)
Kemungkinan di kecamatan Kaliwiro dan atau Kalibawang, Wonosobo

7. Semayu
Kemungkinan desa semayu, kecamatan selomerto, Wonosobo

8. Selang
Kemungkinan Kecamatan Selang, Kebumen

9. Gowong
Desa Kaligowong, Kec.Wadas Lintang, Wonosobo

Peta terakhir menunjukkan 2 daerah paling utara kasultanan di timur Salatiga dan utara Sukowati, yaitu Gagatan & Serang.

Gagatan sekarang desa Gagatan, kec. Wonosegoro Boyolali.* Sedangkan Serang masuk Purwodadi, Grobogan (barat Sumber Lawang, Sragen).

Daerah ini merupakan asal dari Nyi Ageng Serang yang kelak dipersunting Sultan HB II. Bapanya adalah Panglima perang Pangeran Mangkubumi Panembahan Notoprojo. Kelak anak turunnya mendiami Notoprajan dan Serang di barat kraton Jogja.

*info pembaca (mas Her Winarno )

Peta besar khusus pelanggan

Address

Yogyakarta City

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sejarah Jogyakarta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Museum

Send a message to Sejarah Jogyakarta:

Share