Sejarah Jogyakarta

Website Contact the museum

Sejarah Jogyakarta Sejarah Djocjakarta dan kerajaan wangsa Mataram Islam

Kuasa wanita disekeliling rajaCopyright Sejarah Jogyakarta Jika raja yg sedang bertahta masih mempunyai ibu, maka status...
17/09/2026

Kuasa wanita disekeliling raja

Copyright Sejarah Jogyakarta

Jika raja yg sedang bertahta masih mempunyai ibu, maka status ibu menjadi "Ratu Ibu". Ia akan memberikan masukan dan nasehat yang kadang mempengaruhi kebijakan raja.

Jika nenek sang raja masih sugeng dan sehat, maka ia juga akan mempunyai pengaruh terhadap kebijakan raja. Ia disebut "Ratu Eyang".

Selain itu, ada garwa padmi atau permaisuri raja yang juga biasanya akan bersaing untuk menjadi yang paling favorit dan kelak putranya akan naik tahta sebagai raja.

Hubungan garwa padmi dengan ratu ibu maupun ratu eyang tentu tidak selalu mulus. Mungkin disitu seninya, bagaimana menjalin hubungan agar dapat mesra. Mungkin anda yang sudah menikah juga tau gimana cara mengambil hati mertua.

Pengaruh kerabat raja seperti ini sebenarnya sudah ada sejak zaman Majapahit, dan diteruskan di Mataram awal hingga perpecahannya. Sebelum Belanda masuk ke politik Istana, Dewan Mahkota inilah yang menentukan banyak hal, utamanya masalah pergantian tahta.

Sesudah Belanda makin kuat, maka keputusan Dewan Mahkota harus mendapat persetujuan Belanda. Tak jarang calon itu tidak disetujui karena sifatnya yang dianggap bakal "berani" menentang Belanda dan akan sulit dikendalikan.

Dewan Mahkota pada zaman Kartasura akhir, yaitu Susuhunan Pakubuwana II bisa dibaca dalam slide.

Rujukan
Kasdi, Aminuddin (2013) "Perkembangan birokrasi tradisional di Jawa pada abad xiv - xviii"

J.L. Brandes, “Serat Pustaka Raja Puwara” dalam Register op de Proza Omzetting van
de Babad Tanah Djawa, Uitgave van Batavia 1874, Albrecht & Co., Batavia, 1900, 140-201

Th. G. Th. Pigeaud, Java in The 14Th. Century, A Study in Cultural History IV, Martinus
Nijhoff, The Hague, 1962

Pernikahan antara wangsa Mataram Islam menjadikan adanya "fussion" gagrag (gaya) budaya. Seperti putri Pakubuwana X dari...
14/09/2026

Pernikahan antara wangsa Mataram Islam menjadikan adanya "fussion" gagrag (gaya) budaya. Seperti putri Pakubuwana X dari Surakarta yang menikah dengan Pakualam VII, saat itu masih bergelar Adipati Arya Prabu Suryadilaga ( akan bergelar Pakualam setelah berusia 40 tahun).
Tampak keduanya memakai kain gagrag Ngayugjan (warna terang dengan motif parang). Dimana sang putri memakai dengan gaya kain melebar (ada yang tahukah namanya?)
Adapun seredan yg lazim di pakai di gagrag Ngayugjan tidak digunakan. Mungkin fussionnya disini. Termasuk arah lerengnya juga sejajar.
Kalau ada yg punya pendapat lain boleh disampaikan.

Ngarsa Dalem Kaping IX saat gladhen jelang Garebeg tahun 40an. Tampak di kejauhan sebelah kiri salah satu bregadha praju...
12/09/2026

Ngarsa Dalem Kaping IX saat gladhen jelang Garebeg tahun 40an. Tampak di kejauhan sebelah kiri salah satu bregadha prajurit.
Gladhen dilakukan di alun2 kidul, tampak di kejauhan gapura menuju Plengkung Gading.
Alfatihah ila ruh.

07/09/2026

Yuk sharing cerita dan kiat saat Kelud meletus 2014!

Sejak kecil sebenarnya orang Jogja, Magelang, Boyolali dan Klaten sebenarnya sudah sering ya kena abu vulkanik Merapi. Tapi Gunung Kelud yang secara lokasi jauh dari Jawa Tengah/DIY ternyata saat meletus abunya tumplek hingga cukup parah.
Mimin malah punya cerita menarik, malam Kelud meletus sedang diperjalanan kereta dari Jakarta pulamg ke Jogja, pas di tanggal 13 Feb 2014.

Sepanjang jalan setelah lepas Purwokerto memang mulai terdengar suara2 dentuman. Jadi di kereta udah was2 aja. Tapi fikir kami Kelud kan jauh ya.

Kereta sampai Jogja sekitar jam 21 dan langsung tidur karena capek.

Pukul 22.50 ternyata Kelud meletus. Dan paginya memang Jogja kehujanan abu. Jauh lebih parah dari yg biasa saat Merapi batuk. Makin lama makin gelap dan deras abunya.

Ini berlangsung beberapa hari. Semua ventilasi di tutup dan meski masker booming di zaman Covid. Saat itu masker sudah sempat booming.

Nah gimana ceritamu lur?

Anak Krakatau meletus.Krakatau dulu meletus cukup dahsyat.Bagaimana kondisi Jogja saat itu?Sumbangan Yogya untuk korban ...
06/09/2026

Anak Krakatau meletus.
Krakatau dulu meletus cukup dahsyat.
Bagaimana kondisi Jogja saat itu?
Sumbangan Yogya untuk korban letusan Krakatau 1883

Letusan Krakatau terjadi di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), yang bermula pada tanggal 26 hingga 27 Agustus 1883, letusan ini adalah salah satu letusan gunung api paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah, menimbulkan setidaknya 36.417 korban jiwa akibat letusan dan tsunami yang dihasilkannya. Dampak letusan ini juga bisa dirasakan di seluruh penjuru dunia.

Bagaimana di Yogyakarta ?
Menurut catatan hingga setahun setelah letusan, rata-rata suhu global turun 1,2° C. Pola cuaca tetap tak beraturan selama bertahun-tahun, dan suhu tidak pernah normal hingga tahun 1888.

Berita Koran Mataram terbitan 3 September 1883 : pada Agustus 1883 terjadi letusan dahsyat Krakatau yang menimbulkan kehancuran di pesisir Jawa Barat dan Pulau Sumatera. Bagaimanapun di Yogyakarta dengan cepat terbentuk suatu panitya pengumpulan sumbangan yang dipimpin diantaranya oleh kakak tertua Sultan Ngabehi/Sultan Sugih (HB VII) yaitu Gusti Pangeran Harya Mangkubumi bersama Adipati Paku Alam V dan juga asisten residen Belanda di Yogya.

Selain itu, Kassian Chepas (fotografer resmi kesultanan) bersama Dr.Wahidin Soedirohoesodo dan Panewu Sastrodipuro menyelenggarakan pertunjukan "teater tarian" (mungkin wayang orang atau ketoprak) dimana penonton diharapkan menyumbang untuk kurban Krakatau. Pertunjukan amal ini diselenggarakan di Ndalem Gondokusumo (sekitar Sagan, Gondokusuman sekarang) dan di Gamping. Hasil di dua tempat terkumpul 150 gulden (Koran Mataram, 13/9/1883)

Sultan Hamengkubuwono VII turut menyumbangkan uang sejumlah 5,000 gulden (Koran Mataram, 17/9/1883).

Secara keseluruhan dana terkumpul dari Yogyakarta dan diserahkan sebagai sumbangan sosial korban Krakatau mencapai 20,000 gulden. Demikian laporan Koran Mataram, 20 September 1883.

Sumber : Cephas, Yogyakarta: Photography in the Service of the Sultan (G. J. Knaap)

Foto : fohn net/biggest-tsunami/1883_krakatau

Dua Putra Amangkurat I: Putra Mahkota yang Berganti, Plered yang Runtuh, dan Dua Raja MataramSuksesi Amangkurat I ternya...
04/09/2026

Dua Putra Amangkurat I: Putra Mahkota yang Berganti, Plered yang Runtuh, dan Dua Raja Mataram

Suksesi Amangkurat I ternyata tidak sesederhana seorang raja menyerahkan takhta kepada putra sulungnya.

Di balik naiknya RM Rahmat sebagai Amangkurat II, ada persaingan panjang antara dua putra Amangkurat I yang bergantian menjadi putra mahkota—dan pada akhirnya, keduanya sama-sama menjadi raja.

RM Rahmat adalah putra sulung Amangkurat I dari Ratu Kulon ( Giri Kedaton, Surabaya), sedangkan adiknya, RM Darajat atau Pangeran Puger, adalah putra dari Ratu Wetan, yang berasal dari keluarga Kajoran (Pajang, maksudnya Klaten).

Sebagai putra sulung, RM Rahmat mula-mula ditetapkan sebagai Adipati Anom atau putra mahkota Mataram. Namun hubungannya dengan sang ayah jauh dari harmonis.

Pada 1661, RM Rahmat bahkan pernah melakukan pemberontakan setelah muncul kabar bahwa kedudukannya sebagai putra mahkota akan digantikan oleh pangeran lain.

Hubungan ayah dan anak itu semakin buruk akibat persoalan yang sangat personal: seorang perempuan bernama Rara Oyi.

Rara Oyi, gadis asal Surabaya, sebenarnya dipersiapkan untuk menjadi perempuan pendamping Amangkurat I. Namun RM Rahmat jatuh cinta kepadanya. Dengan bantuan kakeknya dari pihak ibu, Pangeran Pekik dari Surabaya, RM Rahmat membawa Rara Oyi untuk menjadi miliknya.

Amangkurat I murka.

Pangeran Pekik beserta keluarganya dihukum mati. Bahkan RM Rahmat dipaksa membunuh Rara Oyi dengan tangannya sendiri sebagai harga untuk memperoleh pengampunan ayahnya. Kesemuanya dimakamkan di Banyusumurup, Imogiri.

Konflik tersebut turut menghancurkan kepercayaan Amangkurat I kepada putra sulungnya.

Status putra mahkota kemudian berpindah dari RM Rahmat kepada adiknya, RM Darajat.

Untuk sesaat, jalan menuju takhta seolah terbuka bagi RM Darajat.

Tetapi politik Mataram kembali mengubah segalanya.

RM Darajat adalah putra Ratu Wetan yang berasal dari keluarga Kajoran (Pajang). Ketika keluarga Kajoran kemudian dikaitkan dengan dukungan terhadap pemberontakan Trunajaya, posisi RM Darajat ikut menjadi rentan.

Sekitar 1674, Amangkurat I mencabut kedudukannya sebagai putra mahkota.

RM Rahmat kembali menjadi Adipati Anom.

Maka perjalanan menuju takhta menjadi berliku:

RM Rahmat → Putra Mahkota
↓
konflik dengan Amangkurat I
↓
RM Darajat → Putra Mahkota
↓
keluarga Kajoran terlibat dalam pusaran pemberontakan
↓
RM Rahmat → kembali menjadi Putra Mahkota

Namun ironi terbesar justru terjadi ketika Mataram menghadapi krisis yang sesungguhnya.

Pada pertengahan 1670-an, pemberontakan Trunajaya berkembang menjadi ancaman besar. Yang membuat situasinya semakin rumit, RM Rahmat sebelumnya juga mempunyai hubungan dengan gerakan Trunajaya. Ia pernah bersekongkol dengan Panembahan Rama dari Kajoran dalam rencana menggunakan Trunajaya untuk mengguncang kekuasaan ayahnya.

Tetapi Trunajaya kemudian berkembang menjadi kekuatan yang tidak lagi dapat dikendalikan.

Pada 1677, pasukannya menyerbu pusat Mataram.

Keraton Plered jatuh.

Amangkurat I meninggalkan ibu kota menuju pantai utara Jawa. RM Rahmat—putra mahkota yang sebelumnya terlibat dalam intrik melawan ayahnya—kini justru memilih mengikuti sang ayah dalam pengungsian.

Sementara itu, orang yang pernah menggantikannya sebagai putra mahkota, RM Darajat/Pangeran Puger, memilih bertahan di Mataram dan menghadapi pasukan Trunajaya.

Kekuatan lawan terlalu besar. Puger akhirnya harus menyingkir ke Jenar dan membangun pusat kekuasaan baru di Purwakanda. Setelah pasukan utama Trunajaya meninggalkan Plered menuju Kediri, Puger kembali dan menguasai bekas ibu kota.

Di tengah runtuhnya otoritas kerajaan, ia mengambil gelar: Susuhunan ing Ngalaga.

Dengan kata lain, Puger mulai menempatkan dirinya sebagai raja Mataram.

Sementara itu, Amangkurat I meninggal dunia dalam pengungsian dan kemudian dimakamkan di Tegalarum dekat Tegal. Sebelum wafat, ia menetapkan RM Rahmat sebagai penerusnya.

RM Rahmat pun naik takhta sebagai Amangkurat II.

Mataram kini memiliki situasi yang luar biasa:

Amangkurat II memiliki wasiat dan legitimasi suksesi dari ayahnya, tetapi belum memiliki keraton.

Pangeran Puger menguasai Plered dan pernah menjadi putra mahkota, tetapi tidak memperoleh takhta melalui wasiat Amangkurat I.

Dua bersaudara.
Dua dasar legitimasi.
Dua pusat kekuasaan.

Dengan bantuan VOC, Amangkurat II akhirnya mampu membangun kembali kekuatannya. Ia tidak menghidupkan kembali Plered sebagai pusat kerajaan, melainkan mendirikan keraton baru di Kartasura pada 1680.

Puger tetap menolak mengakui kekuasaan kakaknya hingga akhirnya kalah. Pada 28 November 1681, ia menyerah dan kembali menyandang kedudukan sebagai pangeran.

Untuk sementara, perebutan takhta selesai.

RM Rahmat menjadi Amangkurat II.
RM Darajat kembali menjadi Pangeran Puger.

Tetapi sejarah ternyata memberikan kesempatan kedua kepada Puger.

Ketika Amangkurat II meninggal pada 1703, takhta diwariskan kepada putranya, Amangkurat III. Puger kembali mengajukan klaim terhadap takhta.

Kali ini ia berhasil.

Pada 1705, Pangeran Puger akhirnya menjadi raja dengan gelar Pakubuwana I.

Maka perjalanan dua putra Amangkurat I membentuk salah satu ironi menarik dalam sejarah dinasti Mataram:

RM Rahmat
Putra Mahkota → tersingkir → Putra Mahkota kembali → Amangkurat II

RM Darajat
Pangeran → Putra Mahkota → tersingkir → Sunan Ngalaga → Pangeran Puger → Pakubuwana I

Pada akhirnya, dua pangeran yang pernah bergantian menjadi putra mahkota itu sama-sama menduduki takhta—hanya waktunya yang berbeda.

Dan mungkin di sinilah menariknya suksesi Mataram: hak darah membuka jalan menuju takhta, tetapi konflik keluarga, jaringan politik, perang, dan kekuatan militer menentukan siapa yang benar-benar dapat duduk di atasnya.

Buku tahun 1930 terjemahan dari bahasa Jawa oleh C.C. Berg dengan bantuan M. Prawiroatmodjo. Katalog University of Penns...
31/08/2026

Buku tahun 1930 terjemahan dari bahasa Jawa oleh C.C. Berg dengan bantuan M. Prawiroatmodjo. Katalog University of Pennsylvania yang mengaitkan teksnya dengan R.Ng. Yasadipura II.

Siapa Pranacitra?

Pranacitra (Prånåtjitrå/Pranatjitra) adalah tokoh dalam kisah Jawa yang sangat erat dengan Rara Mendut. Dalam versi yang terkenal, Pranacitra adalah seorang pemuda, putra saudagar, yang jatuh cinta kepada Rara Mendut. Rara Mendut sendiri berada dalam kekuasaan Tumenggung Wiraguna. Ia menolak menjadi perempuan Wiraguna dan kemudian berjualan rokok untuk memenuhi tuntutan yang dibebankan kepadanya. Dalam konteks inilah ia bertemu dan menjalin cinta dengan Pranacitra.

Hubungan tersebut akhirnya diketahui Wiraguna. Pranacitra dibunuh, sedangkan Rara Mendut memilih mati bersama kekasihnya. Dalam salah satu teks Indonesia yang diterbitkan pemerintah, keduanya kemudian dikisahkan dimakamkan dalam satu liang di Desa Ceporan.

Pranacitra sendiri menjadi lambang pasangan yang dipilih Mendut berdasarkan cinta, berlawanan dengan Wiraguna yang mewakili kekuasaan dan pemaksaan.

Cornelis Christiaan Berg adalah ahli bahasa dan sastra Jawa. Pada 1930 ia menerbitkan:

Prånåtjitrå: een Javaansche liefde, uit het Javaansch vertaald (Pranacitra: Sebuah Cinta Jawa, diterjemahkan dari bahasa Jawa.)

Buku tersebut diterbitkan C.A. Mees di Santpoort, terdiri dari sekitar 360 halaman dan 10 ilustrasi/foto, dengan M. Prawiroatmodjo sebagai kolaborator.
Bahkan buku ini kemudian direviu dalam Journal of the Royal Asiatic Society pada 1932.

Ada yang janggal tidak pemakaian gagrag Ngayugjan dalam sampul buku ini?

29/08/2026
Nemu peta dari 1890 pesanggrahan "Ambar Winangoen" mungkin nama resmi saat itu [ periode selanjutnya dikenal Ambar Binan...
27/08/2026

Nemu peta dari 1890 pesanggrahan "Ambar Winangoen" mungkin nama resmi saat itu [ periode selanjutnya dikenal Ambar Binangun ] setidaknya ada 2 Ambar (wangi) lainnya untuk nama pesanggrahan milik sultan : Ambar Ketawang & Ambar Roekma.
Peta 1890 jika kita analisa :
1. Merupakan sejenis patirtan tetapi uniknya kolamnya (tertulis groote bassin/kolam besar) dikelilingi gedung utama, yg masih utuh hingga sekarang. Kolamnya menjadi ruang utama.

2. Sumber air diambil dari 2 kali ( Bedog dan Bayem) keduanya masih bisa kita temukan hingga kini, aslinya dikelilingi semacam jagang atau sungai kecil di luar cepuri.

3. Jalan raya disekelilingnya hanya ada 4, yaitu :

sisi tenggara tertulis "naar Djokja" (arah Sonosewu > Patangpuluhan > barat Tamansari);

sisi timur tertulis "naar Sonopakis" yaitu jalan ke Sonopakis > Jalan Wates);

sisi barat laut saat itu justru langsung dari utara tugu tertulis "naar gamping" (sekarang jalan ambarbinangun)

dan tepat ke barat dari sisi selatan tertulis "naar padokan" sekarang jalan ambarbinangun 1 maksudnya pabrik gula padokan (madukismo) > lewat kalipakis > menayu > padokan.

4. Bangunan inti hanya berisi patirtan dengan 4 atap dan 2 panggung sisi barat dan barat laut. Bangunan lain2 yg kita lihat sekarang kemungkinan dibangun sesudahnya.

5. Menariknya, inilah pesanggrahan dengan 2 tugu yang terletak di lapangan dengan pintu masuk di sisi selatan. Jadi memang bukan dari sisi depan (timur) persis seperti hari ini.

6. Jika ada yg hilang, sisi timur pintu masuk dulu ada muziektent (tenda pemusik) mgkn khusus musikan. Dan di seberang selatan jalan raya dulu ada semacam bangunan untuk penginapan para pangeran (gedung utama hanya utk berenang), bagian tengahnya ada semacam theehuis/cafe dan garasi mobil.

Sonopakis, kalipakis dan ambarwinangun saat itu merupakan wilayah hijau dengan pesanggrahan2 sultan.

Copyright Sejarah Jogyakarta

Dimanakah raja keempat kraton Kartasura lahir?Raja keempat di Kartasura  yaitu Sunan Amangku Rat IV kelak akan melahirka...
22/08/2026

Dimanakah raja keempat kraton Kartasura lahir?

Raja keempat di Kartasura yaitu Sunan Amangku Rat IV kelak akan melahirkan raja2 di Surakarta dan Yogyakarta.*

Berdasarkan chronicle Mataram, inilah serangkaian peristiwa yg telah ia alami.

Jadi, ketika terjadi serangan Trunajaya pada 1671, ayahnya yaitu Pangeran Puger, putera kedua raja (Amangku Rat I) tetap bertahan di Plered.

Raja telah eksodus ke brang kulon (Banyumas), disusul putera sulung yaitu Raden Mas Rahmat yang kelak akan mewarisi tahta dan memindahkan kraton baru di Kartasura. Jadi putra mahkota ini tidak kembali ke Plered.

Di reruntuhan Plered, Pangeran Puger mengangkat diri sebagai Susuhunan ing Ngalaga

Tentu saja ini dianggap menyaingi kekuasaan raja baru di Kartasura.
Amangku Rat II kemudian membujuk adik tirinya tadi Sunan Ngalaga supaya bergabung dengannya tetapi panggilan tersebut ditolak. Penolakan tersebut menimbulkan perang saudara.

Dalam kondisi memanas itulah, lahir Raden Mas Suryaputra, putra Pangeran Puger. Kelak bergelar Amangku Rat IV.

Setahun setelah kelahirannya, pada tanggal 28 November 1681 Jacob Couper, perwira VOC membantu Amangkurat II menyerang Plered. Sunan Ngalaga kalah dan ikut pindah ke Kartasura beserta keluarganya.

Sunan Ngalaga pun kembali bergelar sebagai Pangeran Puger dan mengakui kedaulatan kakaknya sebagai Amangkurat II.

Artinya P. Puger baru pindah ke Kartasura setelah 1681, sedangkan Amangkurat IV (anaknya) lahir 1680. Jadi antara 1680 - 1681 ia masih di Plered.

Jadi meski lahir di Plered, Raden Mas Suryaputra bertumbuh besar di Kartasura, bersama ayahandanya Pangeran Puger. Tempat tinggalnya Pugeran, kini tersisa Punthuk Pugeran di Kartasura.

Beberapa fragmen perang kelak akan ia alami, yaitu perang antara ayahnya dengan raja bertahta - ponakan Pangeran Puger yaitu Amangku Rat III dan disusul.naik tahtanya ayahandanya sebagai raja Mataram (Pakubuwana I) sehingga kelak ia mewarisi tahta sebagai Susuhunan Amangku Rat IV.

Banyak yang bertanya, mengapa dia tidak meneruskan gelar ayahnya yaitu Susuhunan Pakubuwana, tetapi justru memyempal kembali ke Amangku Rat (IV)?

Jawabnya ?

Catatan kaki
* raja keempat di Kartasura setelah Amangku Rat I, II dan Pakubuwana I

Rujukan :
De Graaf

Address

Yogyakarta City

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sejarah Jogyakarta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Museum

Send a message to Sejarah Jogyakarta:

Shortcuts

Share