04/09/2026
Dua Putra Amangkurat I: Putra Mahkota yang Berganti, Plered yang Runtuh, dan Dua Raja Mataram
Suksesi Amangkurat I ternyata tidak sesederhana seorang raja menyerahkan takhta kepada putra sulungnya.
Di balik naiknya RM Rahmat sebagai Amangkurat II, ada persaingan panjang antara dua putra Amangkurat I yang bergantian menjadi putra mahkota—dan pada akhirnya, keduanya sama-sama menjadi raja.
RM Rahmat adalah putra sulung Amangkurat I dari Ratu Kulon ( Giri Kedaton, Surabaya), sedangkan adiknya, RM Darajat atau Pangeran Puger, adalah putra dari Ratu Wetan, yang berasal dari keluarga Kajoran (Pajang, maksudnya Klaten).
Sebagai putra sulung, RM Rahmat mula-mula ditetapkan sebagai Adipati Anom atau putra mahkota Mataram. Namun hubungannya dengan sang ayah jauh dari harmonis.
Pada 1661, RM Rahmat bahkan pernah melakukan pemberontakan setelah muncul kabar bahwa kedudukannya sebagai putra mahkota akan digantikan oleh pangeran lain.
Hubungan ayah dan anak itu semakin buruk akibat persoalan yang sangat personal: seorang perempuan bernama Rara Oyi.
Rara Oyi, gadis asal Surabaya, sebenarnya dipersiapkan untuk menjadi perempuan pendamping Amangkurat I. Namun RM Rahmat jatuh cinta kepadanya. Dengan bantuan kakeknya dari pihak ibu, Pangeran Pekik dari Surabaya, RM Rahmat membawa Rara Oyi untuk menjadi miliknya.
Amangkurat I murka.
Pangeran Pekik beserta keluarganya dihukum mati. Bahkan RM Rahmat dipaksa membunuh Rara Oyi dengan tangannya sendiri sebagai harga untuk memperoleh pengampunan ayahnya. Kesemuanya dimakamkan di Banyusumurup, Imogiri.
Konflik tersebut turut menghancurkan kepercayaan Amangkurat I kepada putra sulungnya.
Status putra mahkota kemudian berpindah dari RM Rahmat kepada adiknya, RM Darajat.
Untuk sesaat, jalan menuju takhta seolah terbuka bagi RM Darajat.
Tetapi politik Mataram kembali mengubah segalanya.
RM Darajat adalah putra Ratu Wetan yang berasal dari keluarga Kajoran (Pajang). Ketika keluarga Kajoran kemudian dikaitkan dengan dukungan terhadap pemberontakan Trunajaya, posisi RM Darajat ikut menjadi rentan.
Sekitar 1674, Amangkurat I mencabut kedudukannya sebagai putra mahkota.
RM Rahmat kembali menjadi Adipati Anom.
Maka perjalanan menuju takhta menjadi berliku:
RM Rahmat → Putra Mahkota
↓
konflik dengan Amangkurat I
↓
RM Darajat → Putra Mahkota
↓
keluarga Kajoran terlibat dalam pusaran pemberontakan
↓
RM Rahmat → kembali menjadi Putra Mahkota
Namun ironi terbesar justru terjadi ketika Mataram menghadapi krisis yang sesungguhnya.
Pada pertengahan 1670-an, pemberontakan Trunajaya berkembang menjadi ancaman besar. Yang membuat situasinya semakin rumit, RM Rahmat sebelumnya juga mempunyai hubungan dengan gerakan Trunajaya. Ia pernah bersekongkol dengan Panembahan Rama dari Kajoran dalam rencana menggunakan Trunajaya untuk mengguncang kekuasaan ayahnya.
Tetapi Trunajaya kemudian berkembang menjadi kekuatan yang tidak lagi dapat dikendalikan.
Pada 1677, pasukannya menyerbu pusat Mataram.
Keraton Plered jatuh.
Amangkurat I meninggalkan ibu kota menuju pantai utara Jawa. RM Rahmat—putra mahkota yang sebelumnya terlibat dalam intrik melawan ayahnya—kini justru memilih mengikuti sang ayah dalam pengungsian.
Sementara itu, orang yang pernah menggantikannya sebagai putra mahkota, RM Darajat/Pangeran Puger, memilih bertahan di Mataram dan menghadapi pasukan Trunajaya.
Kekuatan lawan terlalu besar. Puger akhirnya harus menyingkir ke Jenar dan membangun pusat kekuasaan baru di Purwakanda. Setelah pasukan utama Trunajaya meninggalkan Plered menuju Kediri, Puger kembali dan menguasai bekas ibu kota.
Di tengah runtuhnya otoritas kerajaan, ia mengambil gelar: Susuhunan ing Ngalaga.
Dengan kata lain, Puger mulai menempatkan dirinya sebagai raja Mataram.
Sementara itu, Amangkurat I meninggal dunia dalam pengungsian dan kemudian dimakamkan di Tegalarum dekat Tegal. Sebelum wafat, ia menetapkan RM Rahmat sebagai penerusnya.
RM Rahmat pun naik takhta sebagai Amangkurat II.
Mataram kini memiliki situasi yang luar biasa:
Amangkurat II memiliki wasiat dan legitimasi suksesi dari ayahnya, tetapi belum memiliki keraton.
Pangeran Puger menguasai Plered dan pernah menjadi putra mahkota, tetapi tidak memperoleh takhta melalui wasiat Amangkurat I.
Dua bersaudara.
Dua dasar legitimasi.
Dua pusat kekuasaan.
Dengan bantuan VOC, Amangkurat II akhirnya mampu membangun kembali kekuatannya. Ia tidak menghidupkan kembali Plered sebagai pusat kerajaan, melainkan mendirikan keraton baru di Kartasura pada 1680.
Puger tetap menolak mengakui kekuasaan kakaknya hingga akhirnya kalah. Pada 28 November 1681, ia menyerah dan kembali menyandang kedudukan sebagai pangeran.
Untuk sementara, perebutan takhta selesai.
RM Rahmat menjadi Amangkurat II.
RM Darajat kembali menjadi Pangeran Puger.
Tetapi sejarah ternyata memberikan kesempatan kedua kepada Puger.
Ketika Amangkurat II meninggal pada 1703, takhta diwariskan kepada putranya, Amangkurat III. Puger kembali mengajukan klaim terhadap takhta.
Kali ini ia berhasil.
Pada 1705, Pangeran Puger akhirnya menjadi raja dengan gelar Pakubuwana I.
Maka perjalanan dua putra Amangkurat I membentuk salah satu ironi menarik dalam sejarah dinasti Mataram:
RM Rahmat
Putra Mahkota → tersingkir → Putra Mahkota kembali → Amangkurat II
RM Darajat
Pangeran → Putra Mahkota → tersingkir → Sunan Ngalaga → Pangeran Puger → Pakubuwana I
Pada akhirnya, dua pangeran yang pernah bergantian menjadi putra mahkota itu sama-sama menduduki takhta—hanya waktunya yang berbeda.
Dan mungkin di sinilah menariknya suksesi Mataram: hak darah membuka jalan menuju takhta, tetapi konflik keluarga, jaringan politik, perang, dan kekuatan militer menentukan siapa yang benar-benar dapat duduk di atasnya.