Orbitaldago Gallery

Orbitaldago Gallery Art Gallery

10/05/2026

Kunjungi
“AUM”
Pameran Tunggal I Ketut Adi Candra

Dikuratori oleh Bambang Subarnas

Di Orbital D**o
Jl. Rancakendal Luhur. No 7
Bandung 40192

Pameran dibuka setiap hari
Mulai jam 08.30 WIB hingga 20.00 WIB
Gratis

Frasa “aum” kira- kira sama seperti frasa “amin” dalam Islam. Frasa ini merupakan puncak dari seluruh laku relijius, penutup dari seluruh doa/matra agar terkabul apa yang dihajatkan kepada sang pencipta. Bagi masyarakat Hindu Bali, ucapan AUM merupakan ucapan sakral. Penggunaan frasa ini sebagai judul pameran bertolak dari anggapan bahwa berkarya bukan hanya keperluan profan, tetapi sebagai laku dharma, sebagaimana yang diungkapkan oleh Adi Candra sendiri. (Bambang Subarnas)

I Ketut Adi Candra adalah seorang perupa lulusan ISI Denpasar, tercatat telah berpameran sejak 1993, 11 kali pameran tunggal, 48 kali pameran kelompok. Tahun 1998 ia menjadi salah satu finalis Philip Moris Art Award dan karyanya dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta.

Sejak 2017, Adi Candra berada dijalan karma dan amanah kehidupan sebagai pelayan umat tanpa pamrih : sebagai jero mangku di lingkungan desanya di Singapadu Kaler, Sukawati, Gianyar, Bali. Sebagai jero mangku, ia menjadi pemuka adat yang memimpin berbagai ritual peribadatan. Jabatannya sebagai jero mangku menuntut pemahaman dan penghayatannya terhadap spiritualitas relijius Bali semakin intens. Ia yang dilahirkan di dalam budaya Bali modern, dengan sendirinya telah membentuk Adi Candra me jadi sosoknya saat ini.

Sosok yang mengalami dua kebudayaan secara serentak: kekuatan adat dan modernitas yang disokong oleh kepariwisataan. Secara kultural, kondisi kebudayaan ini merupakan medan dialektik dan negosasi budaya yang berlangsung panjang. Kondisi ini telah melahirkan beragam cara pandang sekaligus daya adaptasi kreatif masyarakatnya. Itulah masyarakat kontemporer Bali saat ini.

Kunjungi“AUM”Pameran Tunggal I Ketut Adi CandraDikuratori oleh Bambang SubarnasDi Orbital D**oJl. Rancakendal Luhur. No ...
08/05/2026

Kunjungi
“AUM”
Pameran Tunggal I Ketut Adi Candra

Dikuratori oleh Bambang Subarnas

Di Orbital D**o
Jl. Rancakendal Luhur. No 7
Bandung 40192

Pameran dibuka setiap hari
Mulai jam 08.30 WIB hingga 20.00 WIB
Gratis

Frasa “aum” kira- kira sama seperti frasa “amin” dalam Islam. Frasa ini merupakan puncak dari seluruh laku relijius, penutup dari seluruh doa/matra agar terkabul apa yang dihajatkan kepada sang pencipta. Bagi masyarakat Hindu Bali, ucapan AUM merupakan ucapan sakral. Penggunaan frasa ini sebagai judul pameran bertolak dari anggapan bahwa berkarya bukan hanya keperluan profan, tetapi sebagai laku dharma, sebagaimana yang diungkapkan oleh Adi Candra sendiri. (Bambang Subarnas)

I Ketut Adi Candra adalah seorang perupa lulusan ISI Denpasar, tercatat telah berpameran sejak 1993, 11 kali pameran tunggal, 48 kali pameran kelompok. Tahun 1998 ia menjadi salah satu finalis Philip Moris Art Award dan karyanya dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta.

Sejak 2017, Adi Candra berada dijalan karma dan amanah kehidupan sebagai pelayan umat tanpa pamrih : sebagai jero mangku di lingkungan desanya di Singapadu Kaler, Sukawati, Gianyar, Bali. Sebagai jero mangku, ia menjadi pemuka adat yang memimpin berbagai ritual peribadatan. Jabatannya sebagai jero mangku menuntut pemahaman dan penghayatannya terhadap spiritualitas relijius Bali semakin intens. Ia yang dilahirkan di dalam budaya Bali modern, dengan sendirinya telah membentuk Adi Candra me jadi sosoknya saat ini.

Sosok yang mengalami dua kebudayaan secara serentak: kekuatan adat dan modernitas yang disokong oleh kepariwisataan. Secara kultural, kondisi kebudayaan ini merupakan medan dialektik dan negosasi budaya yang berlangsung panjang. Kondisi ini telah melahirkan beragam cara pandang sekaligus daya adaptasi kreatif masyarakatnya. Itulah masyarakat kontemporer Bali saat ini.

Terima kasih atas kedatangannya di pembukaan“AUM”Pameran Tunggal I Ketut Adi CandraDikuratori oleh Bambang SubarnasPembu...
06/05/2026

Terima kasih atas kedatangannya di pembukaan

“AUM”
Pameran Tunggal I Ketut Adi Candra

Dikuratori oleh Bambang Subarnas

Pembukaan : Rabu, 6 Mei 2026
Mulai Jam 16.00 WIB

Di Orbital D**o
Jl. Rancakendal Luhur. No 7
Bandung 40192

Pameran dibuka setiap hari
Mulai jam 08.30 WIB hingga 20.00 WIB
Gratis

Frasa “aum” kira- kira sama seperti frasa “amin” dalam Islam. Frasa ini merupakan puncak dari seluruh laku relijius, penutup dari seluruh doa/matra agar terkabul apa yang dihajatkan kepada sang pencipta. Bagi masyarakat Hindu Bali, ucapan AUM merupakan ucapan sakral. Penggunaan frasa ini sebagai judul pameran bertolak dari anggapan bahwa berkarya bukan hanya keperluan profan, tetapi sebagai laku dharma, sebagaimana yang diungkapkan oleh Adi Candra sendiri. (Bambang Subarnas)

I Ketut Adi Candra adalah seorang perupa lulusan ISI Denpasar, tercatat telah berpameran sejak 1993, 11 kali pameran tunggal, 48 kali pameran kelompok. Tahun 1998 ia menjadi salah satu finalis Philip Moris Art Award dan karyanya dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta.

Sejak 2017, Adi Candra berada dijalan karma dan amanah kehidupan sebagai pelayan umat tanpa pamrih : sebagai jero mangku di lingkungan desanya di Singapadu Kaler, Sukawati, Gianyar, Bali. Sebagai jero mangku, ia menjadi pemuka adat yang memimpin berbagai ritual peribadatan. Jabatannya sebagai jero mangku menuntut pemahaman dan penghayatannya terhadap spiritualitas relijius Bali semakin intens. Ia yang dilahirkan di dalam budaya Bali modern, dengan sendirinya telah membentuk Adi Candra me jadi sosoknya saat ini.

Sosok yang mengalami dua kebudayaan secara serentak: kekuatan adat dan modernitas yang disokong oleh kepariwisataan. Secara kultural, kondisi kebudayaan ini merupakan medan dialektik dan negosasi budaya yang berlangsung panjang. Kondisi ini telah melahirkan beragam cara pandang sekaligus daya adaptasi kreatif masyarakatnya. Itulah masyarakat kontemporer Bali saat ini.

Undangan“AUM”Pameran Tunggal I Ketut Adi CandraDikuratori oleh Bambang SubarnasPembukaan : Rabu, 6 Mei 2026Mulai Jam 16....
05/05/2026

Undangan

“AUM”
Pameran Tunggal I Ketut Adi Candra

Dikuratori oleh Bambang Subarnas

Pembukaan : Rabu, 6 Mei 2026
Mulai Jam 16.00 WIB

Di Orbital D**o
Jl. Rancakendal Luhur. No 7
Bandung 40192

Pameran dibuka setiap hari
Mulai jam 08.30 WIB hingga 20.00 WIB
Gratis

Frasa “aum” kira- kira sama seperti frasa “amin” dalam Islam. Frasa ini merupakan puncak dari seluruh laku relijius, penutup dari seluruh doa/matra agar terkabul apa yang dihajatkan kepada sang pencipta. Bagi masyarakat Hindu Bali, ucapan AUM merupakan ucapan sakral. Penggunaan frasa ini sebagai judul pameran bertolak dari anggapan bahwa berkarya bukan hanya keperluan profan, tetapi sebagai laku dharma, sebagaimana yang diungkapkan oleh Adi Candra sendiri. (Bambang Subarnas)

I Ketut Adi Candra adalah seorang perupa lulusan ISI Denpasar, tercatat telah berpameran sejak 1993, 11 kali pameran tunggal, 48 kali pameran kelompok. Tahun 1998 ia menjadi salah satu finalis Philip Moris Art Award dan karyanya dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta.

Sejak 2017, Adi Candra berada dijalan karma dan amanah kehidupan sebagai pelayan umat tanpa pamrih : sebagai jero mangku di lingkungan desanya di Singapadu Kaler, Sukawati, Gianyar, Bali. Sebagai jero mangku, ia menjadi pemuka adat yang memimpin berbagai ritual peribadatan. Jabatannya sebagai jero mangku menuntut pemahaman dan penghayatannya terhadap spiritualitas relijius Bali semakin intens. Ia yang dilahirkan di dalam budaya Bali modern, dengan sendirinya telah membentuk Adi Candra me jadi sosoknya saat ini.

Sosok yang mengalami dua kebudayaan secara serentak: kekuatan adat dan modernitas yang disokong oleh kepariwisataan. Secara kultural, kondisi kebudayaan ini merupakan medan dialektik dan negosasi budaya yang berlangsung panjang. Kondisi ini telah melahirkan beragam cara pandang sekaligus daya adaptasi kreatif masyarakatnya. Itulah masyarakat kontemporer Bali saat ini.

“AUM”Pameran Tunggal I Ketut Adi CandraDikuratori oleh Bambang SubarnasPembukaan : Rabu, 6 Mei 2026Mulai Jam 16.00 WIBDi...
04/05/2026

“AUM”
Pameran Tunggal I Ketut Adi Candra

Dikuratori oleh Bambang Subarnas

Pembukaan : Rabu, 6 Mei 2026
Mulai Jam 16.00 WIB

Di Orbital D**o
Jl. Rancakendal Luhur. No 7
Bandung 40192

Pameran dibuka setiap hari
Mulai jam 08.30 WIB hingga 20.00 WIB
Gratis

Frasa “aum” kira- kira sama seperti frasa “amin” dalam Islam. Frasa ini merupakan puncak dari seluruh laku relijius, penutup dari seluruh doa/matra agar terkabul apa yang dihajatkan kepada sang pencipta. Bagi masyarakat Hindu Bali, ucapan AUM merupakan ucapan sakral. Penggunaan frasa ini sebagai judul pameran bertolak dari anggapan bahwa berkarya bukan hanya keperluan profan, tetapi sebagai laku dharma, sebagaimana yang diungkapkan oleh Adi Candra sendiri. (Bambang Subarnas)

I Ketut Adi Candra adalah seorang perupa lulusan ISI Denpasar, tercatat telah berpameran sejak 1993, 11 kali pameran tunggal, 48 kali pameran kelompok. Tahun 1998 ia menjadi salah satu finalis Philip Moris Art Award dan karyanya dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta.

Sejak 2017, Adi Candra berada dijalan karma dan amanah kehidupan sebagai pelayan umat tanpa pamrih : sebagai jero mangku di lingkungan desanya di Singapadu Kaler, Sukawati, Gianyar, Bali. Sebagai jero mangku, ia menjadi pemuka adat yang memimpin berbagai ritual peribadatan. Jabatannya sebagai jero mangku menuntut pemahaman dan penghayatannya terhadap spiritualitas relijius Bali semakin intens. Ia yang dilahirkan di dalam budaya Bali modern, dengan sendirinya telah membentuk Adi Candra me jadi sosoknya saat ini.

Sosok yang mengalami dua kebudayaan secara serentak: kekuatan adat dan modernitas yang disokong oleh kepariwisataan. Secara kultural, kondisi kebudayaan ini merupakan medan dialektik dan negosasi budaya yang berlangsung panjang. Kondisi ini telah melahirkan beragam cara pandang sekaligus daya adaptasi kreatif masyarakatnya. Itulah masyarakat kontemporer Bali saat ini.

03/05/2026

Selanjutnya

“AUM”

Pameran Tunggal I Ketut Adi Candra

Dikuratori oleh Bambang Subarnas

“AUM”

Frasa “aum” kira- kira sama seperti frasa “amin” dalam Islam. Frasa ini merupakan puncak dari seluruh laku relijius, penutup dari seluruh doa/matra agar terkabul apa yang dihajatkan kepada sang pencipta. Bagi masyarakat Hindu Bali, ucapan AUM merupakan ucapan sakral. Penggunaan frasa ini sebagai judul pameran bertolak dari anggapan bahwa berkarya bukan hanya keperluan profan, tetapi sebagai laku dharma, sebagaimana yang diungkapkan oleh Adi Candra sendiri. (Bambang Subarnas)

I Ketut Adi Candra adalah seorang perupa lulusan ISI Denpasar, tercatat telah berpameran sejak 1993, 11 kali pameran tunggal, 48 kali pameran kelompok. Tahun 1998 ia menjadi salah satu finalis Philip Moris Art Award dan karyanya dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta.

Sejak 2017, Adi Candra berada dijalan karma dan amanah kehidupan sebagai pelayan umat tanpa pamrih : sebagai jero mangku di lingkungan desanya di Singapadu Kaler, Sukawati, Gianyar, Bali. Sebagai jero mangku, ia menjadi pemuka adat yang memimpin berbagai ritual peribadatan. Jabatannya sebagai jero mangku menuntut pemahaman dan penghayatannya terhadap spiritualitas relijius Bali semakin intens. Ia yang dilahirkan di dalam budaya Bali modern, dengan sendirinya telah membentuk Adi Candra menjadi sosoknya saat ini.

Sosok yang mengalami dua kebudayaan secara serentak: kekuatan adat dan modernitas yang disokong oleh kepariwisataan. Secara kultural, kondisi kebudayaan ini merupakan medan dialektik dan negosasi budaya yang berlangsung panjang. Kondisi ini telah melahirkan beragam cara pandang sekaligus daya adaptasi kreatif masyarakatnya. Itulah masyarakat kontemporer Bali saat ini.

02/05/2026

Kunjungi segera

Si Konsisten dari Sukabumi
Pameran Retrospektif
R. Irawan Surianatanegara

Hingga 3 Mei 2026

Kunjungan siswa- siswi  Kunjungi segeraSi Konsisten dari SukabumiPameran Retrospektif R. Irawan Surianatanegara Hingga 3...
01/05/2026

Kunjungan siswa- siswi

Kunjungi segera

Si Konsisten dari Sukabumi
Pameran Retrospektif
R. Irawan Surianatanegara

Hingga 3 Mei 2026

Pameran dibuka untuk umum setiap hari dan gratis
Mulai jam 9.00 hingga 20.00 WIB

R. Irawan Surianatanegara adalah pelukis otodiak yang hampir seumur hidupnya tinggal di kota Sukabumi. Dilahirkan sebagai anak pertama dari 9 bersaudara pada tanggal 12 April 1944 di kota Tasikmalaya, lalu pindah ke Jakarta. Berbeda dengan profesi ayahnya R.M Said Surianatanegara, yang pada saat itu aktif di kepolisian RI pada era kepemimpinan Presiden Sukarno dan Suharto. Irawan memilih profesi sebagai pelukis potret dan naturalis saat menginjak usia 17 tahun, walaupun ia sempat juga menjadi atlet cabang menembak mengikuti jejak sang ayah .

Pameran ini menjadi retrospektif selama ia berkarya dengan memetakan lintasan perjalanan artistik Irawan dalam berbagai fase : dari lukisan observasional yang akurat hingga komposisi yang lebih imajinatif dan reflektif. Karya-karya yang dipamerkan di Orbital D**o ini merupakan koleksi sang anak, Indah Prianti yang diserahkan oleh sang ayah untuk merawat lukisan-lukisannya. Selain beberapa karya yang sudah dikoleksi kolektornya.

Pameran retrospektif ini bukan sekadar peninjauan kembali perjalanan seorang pelukis, tetapi pengingat bahwa modernisme Indonesia dibangun oleh berbagai jalur: yang eksperimental, yang ekspresif, dan juga yang kontemplatif. Irawan Suriatanegara berdiri dalam jalur terakhir itu—sebagai pelukis yang konsisten merawat disiplin, menjaga keseimbangan, dan mengolah kesunyian menjadi bahasa visual. Dalam ketekunannya, kita menemukan bukan hanya karya, tetapi juga suatu sikap.

Kunjungan siswa- siswi SD - SMP  bersama  KunjungiSi Konsisten dari SukabumiPameran Retrospektif R. Irawan Surianatanega...
29/04/2026

Kunjungan siswa- siswi SD - SMP bersama

Kunjungi

Si Konsisten dari Sukabumi
Pameran Retrospektif
R. Irawan Surianatanegara

Hingga 3 Mei 2026

Pameran dibuka untuk umum setiap hari dan gratis
Mulai jam 9.00 hingga 20.00 WIB

R. Irawan Surianatanegara adalah pelukis otodiak yang hampir seumur hidupnya tinggal di kota Sukabumi. Dilahirkan sebagai anak pertama dari 9 bersaudara pada tanggal 12 April 1944 di kota Tasikmalaya, lalu pindah ke Jakarta. Berbeda dengan profesi ayahnya R.M Said Surianatanegara, yang pada saat itu aktif di kepolisian RI pada era kepemimpinan Presiden Sukarno dan Suharto. Irawan memilih profesi sebagai pelukis potret dan naturalis saat menginjak usia 17 tahun, walaupun ia sempat juga menjadi atlet cabang menembak mengikuti jejak sang ayah .

Pameran ini menjadi retrospektif selama ia berkarya dengan memetakan lintasan perjalanan artistik Irawan dalam berbagai fase : dari lukisan observasional yang akurat hingga komposisi yang lebih imajinatif dan reflektif. Karya-karya yang dipamerkan di Orbital D**o ini merupakan koleksi sang anak, Indah Prianti yang diserahkan oleh sang ayah untuk merawat lukisan-lukisannya. Selain beberapa karya yang sudah dikoleksi kolektornya.

Pameran retrospektif ini bukan sekadar peninjauan kembali perjalanan seorang pelukis, tetapi pengingat bahwa modernisme Indonesia dibangun oleh berbagai jalur: yang eksperimental, yang ekspresif, dan juga yang kontemplatif. Irawan Suriatanegara berdiri dalam jalur terakhir itu—sebagai pelukis yang konsisten merawat disiplin, menjaga keseimbangan, dan mengolah kesunyian menjadi bahasa visual. Dalam ketekunannya, kita menemukan bukan hanya karya, tetapi juga suatu sikap.

Selanjutnya  “AUM”Pameran Tunggal I Ketut Adi Candra  Dikuratori oleh Bambang Subarnas  “AUM”Frasa “aum” kira- kira sama...
29/04/2026

Selanjutnya

“AUM”

Pameran Tunggal I Ketut Adi Candra

Dikuratori oleh Bambang Subarnas

“AUM”

Frasa “aum” kira- kira sama seperti frasa “amin” dalam Islam. Frasa ini merupakan puncak dari seluruh laku relijius, penutup dari seluruh doa/matra agar terkabul apa yang dihajatkan kepada sang pencipta. Bagi masyarakat Hindu Bali, ucapan AUM merupakan ucapan sakral. Penggunaan frasa ini sebagai judul pameran bertolak dari anggapan bahwa berkarya bukan hanya keperluan profan, tetapi sebagai laku dharma, sebagaimana yang diungkapkan oleh Adi Candra sendiri. (Bambang Subarnas)

I Ketut Adi Candra adalah seorang perupa lulusan ISI Denpasar, tercatat telah berpameran sejak 1993, 11 kali pameran tunggal, 48 kali pameran kelompok. Tahun 1998 ia menjadi salah satu finalis Philip Moris Art Award dan karyanya dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta.

Sejak 2017, Adi Candra berada dijalan karma dan amanah kehidupan sebagai pelayan umat tanpa pamrih : sebagai jero mangku di lingkungan desanya di Singapadu Kaler, Sukawati, Gianyar, Bali. Sebagai jero mangku, ia menjadi pemuka adat yang memimpin berbagai ritual peribadatan. Jabatannya sebagai jero mangku menuntut pemahaman dan penghayatannya terhadap spiritualitas relijius Bali semakin intens. Ia yang dilahirkan di dalam budaya Bali modern, dengan sendirinya telah membentuk Adi Candra me jadi sosoknya saat ini.

Sosok yang mengalami dua kebudayaan secara serentak: kekuatan adat dan modernitas yang disokong oleh kepariwisataan. Secara kultural, kondisi kebudayaan ini merupakan medan dialektik dan negosasi budaya yang berlangsung panjang. Kondisi ini telah melahirkan beragam cara pandang sekaligus daya adaptasi kreatif masyarakatnya. Itulah masyarakat kontemporer Bali saat ini.

Address

Jalan Ranca Kendal Luhur No. 7
Bandung
40191

Opening Hours

Monday 09:00 - 20:00
Tuesday 09:00 - 20:00
Wednesday 09:00 - 20:00
Thursday 09:00 - 20:00
Friday 09:00 - 21:00
Saturday 09:00 - 21:00
Sunday 09:00 - 20:00

Telephone

+6281320036262

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Orbitaldago Gallery posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Museum

Send a message to Orbitaldago Gallery:

Share

Category