PAKAR - Pakuan Raptor

PAKAR - Pakuan Raptor Falconer & Knowledge: All about Raptor, Bird Of Prey, Burung Pemangsa, Elang, Heulang

Group: https://web.facebook.com/groups/pakuanraptorgroup

* Founder: Acep Setiawan
* Rescue: F.Abimanyu, Stefanus Ganni R
* Logistic: Rangga Permana, Soleh Wardhana
* Designer: Anantha Radit Trimala

* Contributor: Erfan Ramadhan, Haba, Arif Prakoso, Fajar Nurrohman, Ridwan Purnama, Agus Bambang Tri, Donni Firmansyah, Aries Gunawan, Papap, Hendra Mammo D, Ruly Lamusu, I Made Pradana, Martinus Laeyala, ...kami masih menerima pendaftaran

Tahun 2010, Falco

nry (berburu dengan menggunakan burung elang) didaftarkan dalam Warisan Budaya Manusia Tak Benda UNESCO oleh banyak negara seperti Uni Emirat Arab, Maroko, Qatar, Arab Saudi, Suriah, Belgia, Republik Ceska, Peancis, Mongolia, Spanyol, dan Korea Selatan. Akhirnya, pada November 2010, Falconry pun menjadi salah satu warisan budaya tak benda yang diakui dunia. Indonesia tidak mendaftarkan Falconry karena menilai aktivitas atau kegiatan berburu menggunakan burung Elang tidak ada dalam sejarah peradaban bangsa ini, bahkan sampai kami meneliti berbagai Naskah Kuno Zaman Kerajaan yang tersimpan diberbagai daerah atau di Museum Nasional kami tidak menemukan jejak manusia terdahulu yang berburu menggunakan burung Elang. Akan tetapi di Indonesia sendiri banyak yang menekuni dunia yang hampir mirip dengan Falconry tersebut dari mulai anak SMP hingga orang dewasa, padahal kalau dilihat dari segi ekonomi kebutuhan mengadopsi Raptor bisa dikategorikan hoby yang mahal. Belum lagi konskuensi berat yang harus ditanggung karena di Indonesia Elang termasuk satwa yang dilindungi oleh Undang-Undang Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 bagi yang melanggar maka ganjaran Hukum Pidana 5 Tahun atau denda sebesar 100.000.000 (Seratus Juta Rupiah). Tetapi terlepas dari hoby yang melanggar, masih terdapat banyak sekali aktivitas jual-beli Elang yang masuk dalam kategori Bird Of Prey (Burung Pemangsa). Berbagai perdebatan argumentasi pun banyak terjadi diantara para pengadopsi dan aktivis lingkungan hidup atau sejenisnya, kami sendiri menganggap hal itu tidak akan pernah selesai selama aktivitas jual-beli terjadi, mereka seakan dua sejoli yang berjanji sehidup semati keduanya saling ketergantungan. Terlepas dari sebuah konflik perdebatan dan kegiatan yang melanggar hukum tentu kami kembalikan pada individu masing-masing dalam menyikapi dan bertanggung-jawab atas kedua hal diatas. Kami lebih konsen dan terus melakukan observasi mencari pengetahuan dari pendahu yang berpengalaman atau literatur terkait cara tepat menangani seekor Raptor dari mulai perawatan, kesehatan hingga training. Karena kami masih banyak menemukan kejadian adanya Raptor yang mati akibat ownernya lalai dalam penanganan, faktor terbesar diakibatkan oleh minimnya ilmu pengetahuan owner yang memadai untuk mengadopsi Raptor. Mereka (pengadopsi) terlalu “emosional” untuk segera dapat memelihara Raptor sehingga pengetahuan dasar diabaikan. Yang mereka impikan hanyalah partnernya cepat bisa merespon keinginan ownernya atau sebatas selfie untuk gensi keteman-temannya semata seakan ia seorang Falconry sejati seperti dinegara-negara orang lain disana. Kami terus menyuarakan kepada rekan-rekan yang terlanjur mengadopsi untuk setia kepada satu Raptor masing-masing. Tangani dengan baik, berikan vaksin periodik, jaga kesehatannya, pantau setiap prilakunya, berikan mangsa sesuai habitatnya dan jangan bosan mencari ilmunya tiap hari. Maka jika Raptor ditangani dengan tepat impian para pecinta Raptor yaitu Soaring, Hunting atau bahkan Free Fly bisa terlaksana. Bisa dibayangkan apabila owner setia kepada satu Raptornya maka aktivitas jual-beli Raptor bisa ditekan sedikit demi sedikit. Karena maraknya aktivitas jual-beli itu dikarenakan salasatunya banyak owner yang gonta-ganti Raptor hanya karena partnernya sakit, tidak merespon sesuai keinginan bahkan banyak yang kembali membeli Raptor akibat Raptornya mati. Bukan karena kami menentang transaksi jual-beli Raptor, soal itu kami kembalikan kepada individu-individunya masing-masing. Tetapi minimal seorang pecinta Raptor dapat memahami dampak dari kepunahan burung yang gagah itu, kami menyadari bukan hanya transaksi jual-beli Raptor yang mengakibatkan kepunahan terjadi, penembakan liar pun ikut berperan serta didalamnya, pembalakan liar, pembukaan hutan untuk lahan pertanian, kelapa sawit dan sebagainya itu pun yang menjadi faktor dominan dalam kepunahan Raptor. Sudah barang tentu pencegahan faktor-faktor diatas sulit dicegah karena di Indonesia seakan lazim dengan KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme). Pejabat berwenang atau pihak yang berkepentingan terhadap pembukaan hutan sering kali menggunakan jurus itu untuk melancarkan nafsu bisnisnya tanpa mempertimbangkan sebuah dampak eko sistem yang rusak didalam hutan. Dan yang paling penting dari semua hal diatas adalah, dilarang keras memberi Raptor tahu atau pur karena itu perbuatan seorang pengecut ! Ttd:
PAKAR – Pakuan Raptor

03/05/2020
14/01/2020
12/10/2019

12/10/2019

Selamat Tahun Baru 2017!Kesalahan ditahun sebelumnya dijadikan PR yang harus dibenahi, sedangkan segala sedekah dan amal...
31/12/2016

Selamat Tahun Baru 2017!

Kesalahan ditahun sebelumnya dijadikan PR yang harus dibenahi, sedangkan segala sedekah dan amal kebaikan cukup dikenang ketika menyendiri diatas gunung, ditengah lautan atau ketika didalam hutan belantara sendirian.

LEMPARKAN SAJA PARTNER ANDA KEJURANG !Sebuah impian dan cita-cita setiap Falconer itu adalah sang partner yang tumbuh de...
09/09/2016

LEMPARKAN SAJA PARTNER ANDA KEJURANG !

Sebuah impian dan cita-cita setiap Falconer itu adalah sang partner yang tumbuh dengan baik dan ia dapat memahami sedikitnya apa yang diinginkan oleh Falconer, dari mulai pertumbuhan bulu yang terus dijaga kerapihannya, kebersihan bahkan sampai kesehatan sang partner selalu menjadi prioritas. Belum lagi soal kesabaran dan ketekunan para Falconer entah itu melakukan perjalanan jauh yang mungkin saja kepanasan atau kehujanan hanya untuk membawa sang partner kedokter hewan atau sekedar perjalanan kesana-kemari yang tak peduli sebuah jarak yang begitu jauh ketika makanan seperti Tikus Putih, Kelinci, Burung Emprit atau Puyuh yang biasa dibeli kososong ditoko langganan, bahkan terkadang Falconer merelakan waktu istirahatnya sep**ang bekerja ia langsung bergegas menuju tempat dimana partner bertengger “seakan” anak istri menjadi prioritas kelas dua.

Dan yang paling menyayat hati para Falconer itu adalah mereka yang diluar sana (Personal, Aktivis, Dsb) tetap tidak mau melihat setiap gerak dan perjuangan kami terhadap partner, seolah-olah hanya Falconerlah yang membuat terjadinya kepunahan Raptor, bukan kami tidak mau disalahkan tetapi mungkin alangkah lebih bijak jika dalam menilai setiap persoalan khususnya Raptor yang sesungguhnya menurut kami masih banyak hal yang lebih berbahaya dari Falconer soal cara singkat yang membuat raptor punah atau migrasi total dari suatu wilayah endemik seperti perusakan dan pembukaan lahan hutan serta aktifitas perburuan konvensional atau perburuan modern yang itu notabene memburu segala macam satwa.

Akan tetapi kami tetap berbesar hati atas semua tuduhan-tuduhan itu, ini semata demi pilihan sebuah kecintaan kami terhadap Raptor. Karena satu hal utama tugas Falconer dalam menangani seekor Raptor ialah ia harus mampuh menjadikan partner layaknya raptor-raptor yang hidup di singgasana nan megahnya yaitu alam liar, tidak sebaliknya justru partner dijadikan objek exploitasi ego dan gensi pengadopsinya, tidak p**a dijadikan sebagai pajangan atau hiasan hidup.

Agar partner hampir mendekati karakter seperti Raptor yang bebas berkeliaran dihutan dan digunung-gunung, maka seorang Falconer wajib memberikan training insting dan naluri supaya hal itu tetap berpungsi dengan baik, apabila berbagai tahapan training tersebut sudah dianggap dan diterima oleh partner maka inilah hal yang paling inti dari seorang Falconer yaitu Tarining pemberian kepercayaan penuh kepada partner agar ia dapat melesat menembus angin untuk memburu mangsanya atau ia sebatas menunjukan kepiawaiannya dalam “mencumbu angin” (soaring).

Karena tak sedikit para Falconer yang selalu dihantui rasa ketakutan tatkala melepaskan tali pengikat (jesse) sang partner, ia takut sang partner dengan lugas meninggalkannya, lalu bagaimana partner bisa Soaring atau Hunting apabila terus diikat. Disinilah persoalan sebenarnya yang menjadikan para Falconer selalu terpojok dan menjadi objek tuduhan-tuduhan itu, andai saja setiap orang yang mau “terjerumus” kedalam lembah hitam Falconer mereka tidak berprinsif bahwa ketika ia mengadopsi bukan berarti merampas abadi kebebasan Raptor atau dengan kata lain tidak menunggu ia mati sebagai petaklukan, tetapi apabila ternyata memang prinsif anda seperti itu yang selalu takut dan anda terus mengikatnya, maka sebaiknya lemparkan saja partner anda kejurang agar ia dapat bebas dialamnya dan bertemu kembali dengan “selingkuhan”nya.

Bicara soal ketakutan Falconer ternyata masih banyak yang merasa takut ketika partnernya mencakar, mematuk dengan paruh tajamnya padahal itulah pengalaman terindah sebagai bagian dinamika sebagai Falconer. Seperti pada photo ini yang kami menyebutnya sebagai Best Moment antara partner dan owner. Tampak mereka saling percaya dan memahami atas sebuah “sumpah otomatis” yang terbangun diantaranya yang dihasilkan oleh waktu dan kasih sayang dan menempatkan partner sebagai bagian dari sisi lain perjalanan hidup Falconer disamping ia hidup sebagai manusia direstui Tuhan yang berkeluarga dengan manusia lainnya.

Detail Photo Best Moment:
Scientific: Haliaeetus Leucogaster
Name: Leth
Falconer: Hendry Sullivan
Origin : Jakarta

Editing image by: Anantha R Trimala
* Photo sudah memiliki izin dari pemilik.

Salam !




* Bagi kawan-kawan para Falconer lainnya apabila memiliki photo menyerupai, anda dapat mengirimkannya kepada kami melalui kotak pesan. Silahkan...

Falconer di Indonesia itu sebuah konskuensi berat dan tanggung jawab moral terhadap negara dan alam semesta, ibarat pend...
08/09/2016

Falconer di Indonesia itu sebuah konskuensi berat dan tanggung jawab moral terhadap negara dan alam semesta, ibarat pendosa yang tau kejamnya neraka!

THE WAY OF FALCONERBowwie Endressman1956
08/09/2016

THE WAY OF FALCONER
Bowwie Endressman
1956

STOP MENJINAKAN/MENYIKSA PARTNER (RAPTOR) !Umumnya sepengetahuan kami yang telah mensurvey beberapa dari Falconer Indone...
07/09/2016

STOP MENJINAKAN/MENYIKSA PARTNER (RAPTOR) !

Umumnya sepengetahuan kami yang telah mensurvey beberapa dari Falconer Indonesia mereka melakukan proses penjinakan raptor sebelum memasuki masa training, itu dilakukan untuk tujuan agar Raptor tidak berontak saat didekati atau tidak takut oleh Falconernya atau oleh orang pada umumnya bahkan kami mendapati anggapan bahwa “semakin jinak maka semakin dianggap berhasil si ownernya tersebut seolah telah menjadi Falconer sejati”. Maka, setelah Raptor jinak seakan-akan proses training mudah diterapkan kepada partnernya.

Tepatkah hal demikian diatas dilakukan?

Bagi prinsif kami hal tersebut tidaklah tepat, kenapa? Karena dengan raptor semakin dijinakan maka itu berarti menjadikan insting nalurinya tidak berjalan semestinya seperti mereka yang liar dialam bebas, jelas jika ini terjadi maka raptor ketika masuk pada masa training ia tidak akan responsive terhadap metode-metode training seperti metode Flay To The Fist, JTTF dan sebagainya.

Pada level ini maka satu persoalan muncul yaitu raptor sulit merespon, selanjutnya yang terjadi adalah para owner akan kelabakan mencari cara training agar partnernya merespon dan agresive. Dengan berbagai jurus jitu para pengadopsi Raptor tanya kawan kanan-kiri atau datang pada “tuhan digital” yaitu Google, dan akhirnya hampir kebanyakan berbagai pendapat kawan atau artikel menyatakan bahwa cara agar raptor merespon ownernya itu pada saat raptor lapar, dengan kata lain menjadikan raptor itu dalam posisi lapar, bahkan kami mendapati pengadopsi yang mempuasakan partnernya dua hari hanya karena sulit merespond. Maka jika training dilakukan pada saat partner lapar cara itu akan dianggap tepat.

Lalu kami muncul pertanyaan: “Tepatkah salasatu training seperti itu?”. Kami sudah menduga bahwa jawaban mayoritas akan beranggapan bahwa cara itu tepat, karena mungkin pengalaman cara itu yang sudah terbukti dan jitu menjadikan raptor langsung terbang kearah ownernya yang menyodorkan makanan!. Ok kami tau itu terbukti, lantas kamipun muncul lagi pertanyaan kedua: “Bagaimana kalau yang menyodorkan mangsa raptornya diganti oleh anak kecil seumuran SD atau oleh Ibu-ibu lainnya (anggap mereka berani)?, logikanya Raptor yang dalam posisi lapar itu ketika melihat mangsanya yang disodorkan oleh anak kecil atau Ibu-Ibu itu akan terbang menghampiri atau tidak?” Hehehe,...pasti jawabannya hanya anda masing-masing yang tau!. Yukk,.. kita sama-sama belajar bagaimana menangani atau training seekor raptor yang tepat dan tentunya tidak “menyiksa” partner.

Akan tetapi tentu kami mendapati p**a adanya sedikit training raptor yang notabene ketika raptor lapar di situs terpercaya luar negeri, setelah kami teliti lebih dalam tentang pengunaan training pada saat raptor lapar itu semata hanya dilakukan pada masa partner setelah melalui Moulting (ganti bulu) itu bersifat beberapa kali saja, tidak setiap training raptor dalam posisi lapar dan hanya untuk membangkitkan kembali ingatan-ingatan training yang sudah dilakukan sebelum Moulting, karena raptor setelah moulting ia akan sedikit low respon itu diakibatkan oleh terhentinya tarining berat seperti Soaring, Hunting atau Free Play pada saat moulting, jadi sebaiknya anda menghentikan training tersebut pada saat partner sedang ganti bulu lakukan training yang ringan-ringan saja yang tidak membutuhkan stamina yang besar. Berikan asupan yang bergizi baik dan tambah porsi makanannya karena Raptor pada masa itu ia akan rentan terkena berbagai penyakit, hal utama untuk mencegah penyakit jaga kebersihan sekitar tempat partner dan pertahankan udara yang bersih dan nyaman. Masa ganti bulu pada raptor terbilang lumayan lama yaitu paling lama mencapai sembilan bulan, pada posisi ini banyak para Falconer yang keberatan terhadap partnernya saat menunggu ganti bulu selesai dengan berbagai alasan, umumnya mereka tidak mau melihat partnernya yang kurang mulus bulunya karena beberapa yang patah atau lepas. Bagi Falconer yang ekstrim ada juga yang melepaskan bulu-bulu yang mau lepas dengan melepaskan paksa agar cepat tumbuhnya kembali, dengan demikian maka masa ganti bulu akan lebih singkat. Pilihannya ada pada anda sendiri, mau menunggu atau dipaksa melepaskan bulu-bulu dengan menariknya langsung.

Kembali pada pokok bahasan diatas, tentang prinsif kami yang menganggap bahwa tidak tepat proses penjinakan raptor. Selain beberapa contoh pertanyaan kami diatas ada hal yang paling krusial dan krisis yang akan dihadapi oleh partner ketika Falconer di Indonesia berkiblat sepenuhnya kepada para Falconer dunia yang melepaskan (releas) partnernya ketika mencapai usia dan skil tertentu, tetapi apabila masih mau sebagai Falconer maka ia akan kembali diberikan izin khusus untuk mengadopsi raptor yang usianya masih Brancher Seperti di Abu Dhabi, Kuait dan America. Sesungguhnya itulah yang dilakukan oleh seorang Falconer Sejati yang memiliki jatidiri dan “berhati mulia”. Tidak mengadopsi Raptor itu selamanya atau sampai ia mati sia-sia hanya karena sebuah Ego atau Gengsi semata.

Ok, jika anda salasatu Falconer sejati yang mengikuti jejak para Falconer dunia yang me-releas partnernya pada usia atau skil tertentu atau bahkan hanya karena alasan-alasan anda bosan atau capek menangani raptor lalu berniat melepaskan kealam liar sebagai habitatnya. Apakah itu akan dianggap selesai dan anda dianggap sudah berhati mulia? Tidak, itu belum selesai dan masih panjang proses mengembalikan insting liarnya yang sudah anda “kubur” dalam-dalam saat proses penjinakan tersebut. Kami pernah mengunjungi beberapa suaka elang dibeberapa tempat di Indonesia dan langsung menyaksikan beberapa hari saja (11 hari) tatkala para petugas suaka dan dokter hewan bersusah payah menyusuri sungai, memanjat pohon tinggi dan berbagai kendala lainnya hanya demi memantau raptor yang sedang ditangani dalam mengembalikan naluri dan instingnya bahkan hingga berbulan-bulan bahkan ada juga yang mencapai bertahun ia menangani satu raptor saja. Hmmm

Harapan kami, semoga anda dapat menyimpulkan hal baik dan buruknya ketika anda mau berencana sebagai Falconer atau anda yang sudah terlanjur sebagai Falconer harap perhatikan hal-hal yang membuat raptor itu sulit kembali beradaptasi di rumah megahnya yaitu alam bebas.

: "Falconer sejati itu seberapa besar ia mampuh bersahabat dengan partnernya, bukan menaklukannya" !

Gabung digroup resmi kami disini : https://web.facebook.com/groups/pakuanraptorgroup

Salam!

Falconer sejati itu seberapa besar ia mampuh bersahabat dengan partnernya, bukan menaklukannya !
05/09/2016

Falconer sejati itu seberapa besar ia mampuh bersahabat dengan partnernya, bukan menaklukannya !

Address

Bogor

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PAKAR - Pakuan Raptor posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share