09/05/2026
SURAT TERBUKA
*Kepada Yth. Menteri Kebudayaan Republik Indonesia
di Jakarta
Dengan hormat,
Saya Nyai Tangulun Limbangan, sebagai bagian dari anak-putu Limbangan, menulis surat ini bukan untuk meminta belas kasihan. Tapi untuk menagih pengakuan.
Di hadapan Bapak/Ibu Menteri, kami letakkan sebuah benda: Mahkota segi enam dari Kuningan Sari yang sudah keropos. Bukan emas. Bukan Binokasih. Ini Mahkota Limbangan.
Selama ini narasi sejarah kebesaran Sunda di Priangan Timur seolah hanya milik satu nama. Seolah wibawa hanya boleh berkilau dari satu mahkota. Kami menolak itu. Limbangan pun punya jalan darah, punya _karatuan_, punya mahkotanya sendiri. Dan mahkota ini sedang bicara.
Maka, inilah yang harus Bapak/Ibu baca. Inilah suara Limbangan:
_Filosofi Mahkota Limbangan: Segi Enam Kuningan Sari yang Keropos_
Ini bukan Binokasih. Ini Limbangan. Dan Limbangan pun punya wibawanya sendiri.
_1. Makna Segi Enam_
Enam sisi mahkota ini bukan kebetulan. Dalam falsafah Sunda-Galuh, angka 6 adalah _genep_, artinya "sempurna" dan "cukup".
- _6 Arah Mata Angin_: Utara, Selatan, Timur, Barat, Atas, Bawah. Artinya penguasa Limbangan harus menjaga keseimbangan _buana panca tengah_ - dunia nyata dan dunia gaib.
- _6 Sifat Pemimpin_: _Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer, Wanter_. Sehat, Baik, Benar, Cerdas, Mawas, Berani. Tanpa satu sisi, mahkota akan timpang.
- _6 Unsur Alam_: Tanah, Air, Api, Angin, Ruang, Cahaya. Raja Limbangan adalah penjaga _jagat leutik_ di wilayahnya.
Bentuk segi enam juga lebih "membumi" dari lingkaran sempurna. Ia tegas, punya sudut, punya pendirian. Tidak menggelinding ikut arus.
_2. Kenapa Kuningan Sari, Bukan Emas?_
Emas itu untuk raja besar, untuk pusat. Limbangan adalah _kadipaten_, penjaga wilayah timur Sunda. Kuningan Sari dipilih karena:
- _Kuningan = _Kuning - Ingan__: Kuning itu agung, _ingan_ artinya ingat. Pemimpin harus ingat darimana ia berasal. Tidak silau oleh kemewahan, tapi ingat pada tanah dan rakyatnya.
- _Logam Campuran_: Kuningan adalah tembaga + seng. Filosofinya: pemimpin harus bisa menyatukan unsur yang berbeda. Tembaga yang lunak dan seng yang keras, dilebur jadi satu yang lebih kuat. Itulah tugas penguasa Limbangan: menyatukan rakyat yang beragam.
- _Lebih Membumi_: Emas tidak berkarat, ia abadi dan jauh. Kuningan bisa kusam, bisa keropos. Ia sama seperti manusia dan kekuasaan: ada masanya, bisa lapuk dimakan zaman. Ini pengingat agar tidak sombong.
_3. Makna Keroposnya_
Mahkota ini sudah keropos. Justru di situlah nilainya.
- _Waktu Adalah Saksi_: Keropos itu adalah tapak sejarah. Ia bukti bahwa mahkota ini pernah dipakai, pernah berkeringat, pernah memimpin perang dan sawala. Mahkota yang terlalu mengkilap justru patut dicurigai: baru dibuat, atau hanya pajangan.
- _Kesederhanaan yang Agung_: Keropos mengajarkan _hina di mata, mulia di rasa_. Kekuasaan sejati tidak butuh kilau. Bahkan saat raganya lapuk, _karomah_ dan wibawanya tetap ada bagi yang percaya.
- _Fana-nya Kuasa_: Tidak ada kekuasaan yang abadi. Kerajaan besar runtuh, mahkota emas dilebur. Tapi mahkota kuningan yang keropos ini masih ada, bercerita. Artinya: yang abadi bukan bendanya, tapi nilai dan amanah yang pernah diembannya.
_Milik Siapa?_
Ini Mahkota Limbangan.
Secara turun-temurun, mahkota segi enam ini diyakini sebagai _atribut kabuyutan_ para Dalem Limbangan. Bukan milik perseorangan, tapi milik _karatuan_. Ia simbol _mandala_ Limbangan sebagai wilayah yang merdeka di bawah naungan Sunda.
Jika Binokasih adalah mahkota Sumedanglarang yang emas, maka Mahkota Limbangan ini adalah penyeimbangnya. Satu mewakili pusat yang megah, satu mewakili _wewengkon_ yang kuat dan membumi.
Limbangan tidak perlu jadi Binokasih. Limbangan punya jalan, punya darah, punya mahkotanya sendiri. Keroposnya kuningan ini adalah bukti bahwa Limbangan pernah ada, pernah jaya, dan kisahnya tidak boleh hilang.
_Mahkota ini tidak berkilau untuk dilihat. Ia keropos untuk direnungkan._
Bapak/Ibu Menteri yang terhormat,
Tuntutan kami jelas dan sederhana:
1. Akui Mahkota Limbangan sebagai Benda C***r Budaya Nasional. Jangan biarkan ia lapuk dalam diam karena tidak ada yang mau mencatat.
2. Catat Limbangan dalam narasi sejarah resmi. Sejarah Sunda bukan hanya satu titik. Limbangan adalah _mandala_ yang menjaga batas timur, dan itu harus diajarkan ke anak cucu kita.
3. Lindungi dan rawat. Keroposnya adalah data sejarah. Jangan sampai ia hilang karena dianggap "bukan emas". Nilai sebuah bangsa bukan dari kilau emasnya, tapi dari kemampuannya menghargai semua serpih sejarahnya.
Kami tidak meminta mahkota ini disimpan di istana. Biar ia tetap di tanah Limbangan. Tapi kami minta negara hadir untuk menjaganya, mengakui ceritanya, dan memastikan anak-anak Limbangan tidak jadi yatim sejarah.
Jika emas Binokasih dijaga negara, maka kuningan Limbangan pun berhak atas penjagaan yang sama. Karena wibawa tidak diukur dari kadar karat, tapi dari darah dan air mata yang pernah tumpah untuknya.
Cukup sudah Limbangan hanya jadi catatan kaki. Ini mahkota kami. Ini cerita kami. Dan negara wajib mendengarnya.
_Mahkota ini tidak berkilau untuk dilihat. Ia keropos untuk direnungkan. Dan kini giliran negara untuk merenungkannya._
SEUWEU SIWI SINAN RUMENGGONG
EYANG SALINGIH
Hormat kami,
Nyai Tangulun Limbangan
Atas nama Anak-Putu Eyang Rumenggong Limbangan
Garut
8 Mei 2026
082213110009