Kediri JADUL

Kediri JADUL Sebuah usaha untuk mengumpulkan dokumenter Karesidenan Kediri Jaman Dulu dari berbagai sumber bebas share.

Granat tangan buatan lokal atau rakitan yang ditemukan di bangunan 'Polisi Tentara' di Blitar, Jawa Timur, pada bulan De...
03/06/2026

Granat tangan buatan lokal atau rakitan yang ditemukan di bangunan 'Polisi Tentara' di Blitar, Jawa Timur, pada bulan Desember 1948.
Granat-granat ini berbentuk silinder dengan pola kotak-kotak atau diagonal pada bodinya, mirip dengan beberapa model granat tangan yang digunakan selama era revolusi fisik Indonesia.
Temuan seperti ini merupakan bagian dari sejarah persenjataan pejuang kemerdekaan Indonesia antara tahun 1946 hingga 1949
(MBBK-Nederlands Fotomuseum)
Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini:

Arca dewa dewi jugo mojo kediri jawa 1938Belum diketahui keberadaannya saat ini, kemungkinan arca ini ada di museum bela...
02/06/2026

Arca dewa dewi jugo mojo kediri jawa 1938
Belum diketahui keberadaannya saat ini, kemungkinan arca ini ada di museum belanda dengan rak OD-12794
(KITLV)
Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini:

Prasasti Batu tapal batas (kurawal) kediri jawa 1866Aksara jawa kuno kawi yang terdapat pada batu tersebut sulit terbaca...
01/06/2026

Prasasti Batu tapal batas (kurawal) kediri jawa 1866
Aksara jawa kuno kawi yang terdapat pada batu tersebut sulit terbaca karna sebagian tulisannya sudah aus tidak bisa terbaca secara lengkap. Bagian paling atas adalah ornamen "M" simbul kala/ makara khas kediri abad 11.
Aksara bagian vertikal dan horisontal adalah :
"Kalinganing... kirin kirin" (kalinganing di beringin)
"Sura Wuna nuwa nuwa nu..." (wahai pahlawan yang mulya, wahai...)
"Kinuwiki huwa huwa" (yang dipuja, wahai wahai)
"Kinuwiki wahua wahuwa" (untuk yang dipuja, wahai wahai)
Sedangkan pendapat lain terkait batu tersebut mengutip tulisan andrik akira adalah :
RDM Veerbek dalam Verhandelingen Oudhen van Java (1891: 211) menyebut batu tersebut dengan nama Het steentje met jaartal 1391 Çaka atau batu berangka tahun 1391 Çaka (1469 Masehi). Batu ini berasal dari Madiun namun belum diketahui lokasi penemuannya. Batu tersebut sempat dibawa ke Kediri oleh Residen Van de Pol dan diletakan dihalaman rumah residen. Berdasarkan regeerings almanak, Van de Pol menjabat residen Kediri mulai dari tahun 1857-1862. Bisa jadi tahun penemuanya sekitar rentang tahun tersebut dan kemudian dibawa ke Kediri. J. Knebel dalam ROC (1906: 31), memberitakan bahwa batu tersebut sempat berada di rumah Controleur (Kontrolir) Madiun bersama dengan arca yang berangka tahun 1308 Çaka (1230 Masehi) sebelum akhirnya dipindah ke Museum Weltevreden atau sekarang Museum Nasional Jakarta. Di Museum Nasional teregistrasi dengan nomor D. 60.

Batu ini berbentuk seperti batu tugu dengan bagian atas lancip (kurawal). Ukuran tingginya ± 50 cm. Ada kemungkinan fungsi dari batu ini adalah tugu batas desa/wilayah. Pada bagian sisi lebar (depan-belakang) terdapat hiasan kotak persegi panjang yang diukir ditengah secara vertical dan diatasnya terdapat ukiran berbentuk seperti mahkota. Bagian bawah terdapat hiasan lingkaran, segitiga, dan persegi yang bentuknya tidak beraturan. Di Kelurahan Wungu (Kecamatan Wungu, Madiun), tepatnya tengah-tengah dipemukiman penduduk juga terdapat sebuah batu tugu. Batu tugu ini ukuranya lebih besar daripada batu tugu D. 60.

Angka tahun 1391 Çaka terukir di salah satu sisi tebal (kanan/kiri). Yang menarik penulisan aksara angka-angkanya terlihat miring. Angka tahun terdekat yang masih satu area (Keresidenan Madiun) adalah Inskripsi Sine (Ngawi) yang berangka tahun 1381 Çaka (1459 Masehi) (sekarang juga di Museum Nasional Jakarta). Namun penulisan aksaranya lebih cenderung satu tipe dengan akasara (candi) sukuh (Hopermans dalam TBG, 1875: 161 ). Berdasarkan Holle (1882: 48), penulisan angka tahun di batu tugu tersebut mirip dengan angka tahun 1259 Çaka (1337 Masehi) di acra dwarapala Candi Induk, Kompleks Candi Penataran, Blitar . Tahun 1391 Çaka masih merupakan masa Kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Raja Girindrawardhana.
(KITLV)
Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini:

Prasasti Patmasana Kediri jawa 1866Terbuat dari batu andesit dibuat pada abad 11 M. berbentuk kursi padmasana dengan ins...
01/06/2026

Prasasti Patmasana Kediri jawa 1866
Terbuat dari batu andesit dibuat pada abad 11 M. berbentuk kursi padmasana dengan inskripsi atau tulisan jawa kuno pada permukaannya, sebagai piagam tempat dudukan arca dewa siwa.
Tulisan jawa kuno yang sebagian sudah aus yang terbaca adalah
Baris 1 "sri maharaja ....."
(Yang mulya maharaja)
Baris 2 "saka warsa ....."
(Tahun dibuat)
Baris 3 "mankin ...."
(Tujuan)
Sebagian ada yang mendeskripsikan bahwa ini adalah padmasana kediri brebek, namun karna keberadaan prasasti ini sekarang belum diketahui, maka kepastian tentang prasasti ini apakah ada kaitannya dengan brebek nganjuk, belum terkonfirmasi.
(KITLV)
Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini:

Lingga Yoni dari kediri jawa ini adalah salah satu koleksi museum belanda diperkirakan dibuat pada era kerajaan medang 8...
01/06/2026

Lingga Yoni dari kediri jawa ini adalah salah satu koleksi museum belanda diperkirakan dibuat pada era kerajaan medang 860- 879 M.
Linden-Museum Stuttgart
Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini:

Arca siwa di kediri jawa 1866Belum diketahui keberadaannya dimana saat ini.(KITLV)Untuk melihat foto lainnya silahkan kl...
01/06/2026

Arca siwa di kediri jawa 1866
Belum diketahui keberadaannya dimana saat ini.
(KITLV)
Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini:

Arca Siwa/ Mahakala dari kediri jawa 1866Arca berdiri tegak, berlengan dua, dengan keris di tangan kanannya dan rambut y...
01/06/2026

Arca Siwa/ Mahakala dari kediri jawa 1866
Arca berdiri tegak, berlengan dua, dengan keris di tangan kanannya dan rambut yang sangat panjang.
berdiri di atas lotus (teratai) menunjukkan bahwa sosok ini bukanlah orang biasa pada masanya, mengenakan hiasan kepala berbentuk pita, gelang, penutup bahu, dan anting-anting, dengan gaya pakaian kain polos yang menyerupai tradisi Bali dan Sasak.
Saat ini menjadi koleksi di Museum Nasional Indonesia, No.3196/100a
(KITLV)
Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini:

Arca Dhyanamudra Kediri jawa 1866.Arca ini diperkirakan berasal dari abad ke-13. Bentuknya menggambarkan sosok yang seda...
01/06/2026

Arca Dhyanamudra Kediri jawa 1866.
Arca ini diperkirakan berasal dari abad ke-13. Bentuknya menggambarkan sosok yang sedang bermeditasi dalam posisi duduk dengan tangan membentuk mudra tertentu, sering dikaitkan dengan raja atau tokoh divinisasi "proses pendewaan". Arca ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
(KITLV)
Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini:

Arca Durga Mahisasuramardini Kediri berasal dari abad ke-11 hingga ke-12 sekarang berada di museum Linden-Museum Stuttga...
31/05/2026

Arca Durga Mahisasuramardini Kediri berasal dari abad ke-11 hingga ke-12 sekarang berada di museum Linden-Museum Stuttgart
Arca serupa umumnya ditemukan di kompleks percandian era Kerajaan Kadiri abad 11- 12 sebagai sarana pemujaan menjadi media spiritual umat Hindu untuk memuja Dewi Durga sebagai aspek sakti (istri) Dewa Siwa. Simbol melambangkan kemenangan kebaikan (dharma) atas kejahatan (adharma) dengan menaklukkan raksasa berwujud kerbau (Mahisasura).
Digambarkan sebagai dewi cantik berlengan delapan, masing-masing memegang berbagai senjata untuk melawan asura. Berdiri tegap menginjak kepala atau punggung seekor kerbau. Pada masa Hindu-Buddha, arca ini secara spesifik ditempatkan di relung sisi utara bangunan utama candi.
Memakai mahkota berbentuk Jatamakuta atau Karandamakuta. Dilengkapi dengan Sirascakra (halo/lingkaran cahaya di belakang kepala), anting-anting (Kundala), kalung (Hara), dan ikat perut. Biasanya terbuat dari batu andesit. Arca ini melambangkan kemenangan kekuatan (kebaikan) atas kejahatan yang diwakili oleh raksasa berkepala kerbau Mahisasura.
Alih bahasa deskripsi pada arca ini adalah sebagai berikut : 👇
Dewi Durga
Ini adalah gambar dewi Durga, Yang Tak Terjangkau, yang menggambarkannya dalam kemenangannya, Sakti. Dia adalah personifikasi energi dewa Siwa, dalam aspeknya sebagai penghancur dan pencipta dunia ini.
Dia berdiri di atas kerbau dengan iblis di sampingnya. Kisah-kisah India kuno Markandeya Purana dan Matsya Purana menceritakan tentang pertempuran para dewa, yang dipimpin oleh dewa Indra, dengan iblis Asura, yang dipimpin oleh raja mereka Mahisha. Setelah para dewa dikalahkan, Mahisha ingin memerintah surga. Di bawah kepemimpinan dewa Brahma, para dewa meminta bantuan dari dewa Wisnu dan Siwa. Dari kemarahan gabungan mereka, dewi Durga lahir. Kemudian, semua dewa memberinya senjata, yang dengannya dia menyerang pasukan iblis. Itulah salah satu alasan mengapa gambar dewi memiliki empat hingga sepuluh lengan, meskipun delapan adalah jumlah yang paling umum. Ia dapat membawa senjata-senjata berikut: trisula (trisula), pedang (khadga), pisau, belati, gada, kapak, roda lempar (chakra), cekikan, panah (shara), busur (dhanu), cangkang kerang (shangka), petir (vajra), ular (sarpa), dan perisai (khetaka). Patung Durga ini memegang roda lempar di tangan kanan atasnya. Kemudian kemungkinan ia memegang pedang dan panah. Dengan tangan kanan bawahnya, ia memegang ekor kerbau. Di tangan kiri atasnya, ia memegang cangkang kerang, kemudian tombak dan gada. Di tangan kiri bawahnya, ia memegang kepala iblis Asura. Kerbau itu juga tidak lagi terlihat; mungkin telah patah atau benar-benar lapuk. Ia memiliki lingkaran cahaya di sekitar kepalanya.

Dalam pertempuran, Durga menyerang raja iblis Mahisha, yang telah mengambil wujud kerbau, dan sambil berdiri di atas kerbau, ia membunuhnya dengan memberikan luka fatal di lehernya. Setelah itu, ia kembali ke wujud aslinya, muncul dari kepala kerbau, dan dibunuh olehnya. Oleh karena itu, nama resminya adalah Durga Mahishasuramardini, sang penghancur Mahisha (iblis banteng). Hewan yang terbunuh biasanya tergeletak dengan kepalanya menghadap ke kiri.

Dewi ini sangat populer, sebagaimana dibuktikan oleh 135 patung dirinya yang ditemukan dari periode Indo-Jawa. Asal usul versi Durga ini tidak diketahui. Jika berdiri di sebuah kuil, kemungkinan berada di ruang utara kuil.

Versi Durga India menunjukkan dirinya dalam pertempuran dengan kerbau, dan dalam patung-patung tersebut, iblis tidak ada. Dalam versi Jawa, ia telah menang, dan kerbau terlihat menyatu dengan iblis, yang telah ditarik dari kepala kerbau.

Perbedaan antara patung Jawa Tengah dan Jawa Timur
Pematung Jawa Tengah menyukai garis lengkung dan figur yang kokoh. Dalam patung-patung Jawa Tengah, konvensi artistik India sebagian dipertahankan, seperti garis lengkung kontur yang mengalir, tubuh yang kokoh, penggambaran ornamen yang halus dan detail, mata setengah terpejam, dan jubah atau kain penutup pinggang yang tipis.

Sebaliknya, pematung Jawa Timur lebih menyukai garis-garis bersudut dan figur yang ramping, anggun, dan elegan. Misalnya, garis bahu di Jawa Timur cukup lurus, dan bahu tampak menggantung dari bahu tersebut. Sebagian besar Durga berdiri dengan kaki rapat karena, menurut norma tradisional, seorang wanita Jawa tidak diperbolehkan berdiri dengan kaki terpisah lebar. Patung ini tampaknya dibuat dengan gaya lurus ini.

Perbedaan antara patung Jawa dan India
Dalam patung Jawa, figur manusia tidak seindah dalam patung India. Diasumsikan bahwa patung Indonesia sebelum munculnya seni Indo-Jawa ditandai dengan desain sederhana, garis-garis bersudut, dan postur kaku. Dalam seni pahat Jawa, berbagai bagian tubuh secara bersama-sama menampilkan kesatuan, karena hubungan antara bagian-bagian yang berbeda tidak ditekankan, berbeda dengan seni pahat India di mana hal ini justru terjadi. Dalam seni pahat Jawa, misalnya, kaki menyatu dengan badan.
(museumamsterdam)
Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini:

Arca nandi dari kediri jawa ini adalah salah satu koleksi benda antik museum amsterdamDalam agama Hindu, Nandi dipuja se...
31/05/2026

Arca nandi dari kediri jawa ini adalah salah satu koleksi benda antik museum amsterdam
Dalam agama Hindu, Nandi dipuja sebagai simbol kesucian, kekuatan, dan pengabdian. Candi yang memiliki arca Nandi biasanya merupakan tempat pemujaan Hindu aliran Siwa. Arca ini umumnya digambarkan sebagai seekor lembu yang sedang mendekam (duduk santai namun siap), memiliki punuk besar, memakai kalung lonceng, dan ekornya melengkung ke samping.
Arca-arca peninggalan era Kadiri (Kediri Kuno) dikenal memiliki detail seni pahatan yang sangat halus dan bernilai estetika tinggi, bahkan dinilai oleh para ahli purbakala lebih halus dibandingkan dengan arca peninggalan era Singhasari.
(museumamsterdam)
Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini:

Address

Kediri
64127

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kediri JADUL posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category