Museum Ganesya Malang

Museum Ganesya Malang GANESYA merupakan kepanjangan dari Gelar Indonesia Budaya. GANESYA akann menjadi ruang public dalam hal kebudayaan Indonesia di masa depan.

Sehingga maksud Kami adalah menjadi wadah bagi siapa pun yang ingin belajar, berkarya, dan berekreasi bersama-sama.

20/04/2026

Di balik kelucuan tokoh punakawan dalam pertunjukan Wayang, ternyata tersimpan makna yang dalam.

Punakawan sering muncul dalam adegan “gara-gara”, membawa pesan moral dengan cara yang ringan dan menghibur. Dalam tradisi, mereka dipercaya sebagai ciptaan Sunan Kalijaga, sehingga setiap namanya punya arti filosofis.

Semar melambangkan kebenaran yang kokoh, Gareng menggambarkan pentingnya menjalin hubungan dengan sesama, Petruk mengajarkan untuk melepaskan hal selain Tuhan, dan Bagong menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.

Menariknya, punakawan tidak hanya hadir di satu jenis wayang saja. Mereka juga muncul dalam berbagai bentuk pertunjukan seperti Wayang Golek, Wayang Gedog, hingga Wayang Sasak.

Sebuah bukti bahwa di balik hiburan tradisional, selalu ada nilai dan filosofi yang relevan hingga hari ini.

16/04/2026

Di Museum Ganesya, kamu nggak cuma lihat-lihat, tapi kamu bisa langsung coba aktivitas interaktif main gamelan!

Rasakan serunya memainkan alat musik tradisional secara langsung, memahami budaya dengan cara yang lebih hidup, dan bikin pengalaman ke museum jadi jauh lebih memorable.

Belajar jadi nggak cuma teori, tapi juga praktik langsung. Siswa bisa merasakan budaya, kerja sama tim, dan pengalaman baru yang pastinya lebih berkesan.

Yuk pilih paket sekolah di Museum Ganesya dan buat kegiatan belajar jadi lebih seru & bermakna! 🎓✨

08/11/2025

Kehadiran Museum Ganesya di East Java Heritage Expo 2025 pada 4-6 November 2025 kemarin menjadi kesempatan untuk menampilkan sebagian dari kekayaan koleksi tersebut kepada publik yang lebih luas. Melalui pameran ini, Museum Ganesya membawa semangat pelestarian budaya dengan memamerkan artefak pilihan yang merepresentasikan kejayaan peradaban Jawa Timur, sekaligus mengajak pengunjung untuk mengenal lebih dekat warisan sejarah yang tersimpan di museum.

Museum Ganesya sendiri memikat pengunjung dengan koleksi budaya dan sejarah yang sangat beragam dan autentik. Di dalamnya tersimpan artefak bersejarah dari masa Kerajaan Singhasari hingga Majapahit, seperti keramik, guci, tembikar, dan manik-manik yang mencerminkan kejayaan peradaban kuno Nusantara.

08/11/2025

Kehormatan bagi Museum Ganesya atas kehadiran Kombes Pol Tri Suhartanto, S.I.K. di East Java Heritage Expo 2025.
Dukungan beliau menjadi semangat bagi kami untuk terus menjaga, merawat, dan memperkenalkan warisan budaya Nusantara kepada generasi penerus.

Tahukah kamu bahwa perhiasan mungil bernama manik-manik telah menghiasi kehidupan manusia Indonesia sejak ribuan tahun l...
27/10/2025

Tahukah kamu bahwa perhiasan mungil bernama manik-manik telah menghiasi kehidupan manusia Indonesia sejak ribuan tahun lalu?

Sejak Zaman Neolitikum, manik-manik bukan sekadar hiasan tubuh. Ia menjadi bagian dari upacara sakral dan bahkan bekal arwah dalam tradisi pemakaman kuno. Setiap butirnya menyimpan makna spiritual dan budaya yang mendalam.

Bukti arkeologis menunjukkan bahwa manik-manik sudah digunakan oleh masyarakat Nusantara sejak masa Neolitikum (sekitar 3000–1000 SM). Temuan manik-manik dari batu, tanah liat, dan kerang ditemukan di situs-situs prasejarah seperti Gilimanuk (Bali), Anyer, dan Kalimantan Timur.

Dalam banyak budaya prasejarah, manik-manik digunakan bukan hanya sebagai hiasan tubuh, tetapi juga simbol status sosial dan benda ritual. Temuan di situs kubur menunjukkan bahwa manik-manik sering dikuburkan bersama jenazah sebagai bekal arwah.

Di masa kejayaan kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Mataram, Kediri, hingga Majapahit, manik-manik berkembang menjadi kerajinan dan komoditas berharga. Dari tangan para pengrajin Nusantara, tercipta karya yang tak hanya indah, tetapi juga bernilai sejarah.

Temukan keanggunan dan kisah masa lalu di balik manik-manik Nusantara. Kunjungi Museum Ganesya dan rasakan sendiri keajaiban kecil yang pernah menjadi simbol kebesaran bangsa.

Dhyani Buddha adalah lima bentuk spiritual Buddha yang melambangkan aspek-aspek kebijaksanaan dan kesadaran ilahi.Mereka...
19/10/2025

Dhyani Buddha adalah lima bentuk spiritual Buddha yang melambangkan aspek-aspek kebijaksanaan dan kesadaran ilahi.

Mereka bukan sekadar arca diam di candi, melainkan lambang kesadaran tertinggi dan perjalanan menuju pencerahan.

Setiap Dhyani Buddha memiliki arah, mudra (sikap tangan), dan makna yang berbeda:

1. Aksobhya
Arah: Timur
Mudra: Bhumisparsa Mudra (sikap memanggil bumi sebagai saksi)
Makna: Keteguhan dan ketenangan batin

2. Ratnasambhawa
Arah: Selatan
Mudra: Wara Mudra (sikap memberi atau kemurahan hati)
Makna: Kedermawanan dan keseimbangan

3. Amitabha
Arah: Barat
Mudra: Dhyana Mudra (sikap bermeditasi)
Makna: Cinta kasih dan kebijaksanaan mendalam

4. Amoghasiddhi
Arah: Utara
Mudra: Abhaya Mudra (sikap tidak takut atau menenangkan)
Makna: Keberanian, keberhasilan, dan perlindungan

5. Vairochana
Arah: Tengah
Mudra: Vitarka Mudra (sikap mengedepankan kebijaksanaan / ajaran)
Makna: Pusat dari kelima Buddha, mewakili kesadaran universal

6. Vairochana
Arah: Tengah
Mudra: Dharmachakra Mudra (memutar roda dharma)
Makna: Mengajarkan kebenaran dan menyebarkan ajaran Buddha

Melihat kelima wujud ini, kita seolah diajak menyusuri peta spiritual candi-candi besar seperti Borobudur, tempat setiap arah dan mudra punya arti tersendiri.

Setiap Dhyani Buddha mengingatkan bahwa pencerahan bukanlah tujuan jauh di langit, tetapi proses menyucikan pikiran dan perbuatan dalam diri kita sendiri.

Temukan sendiri makna di balik setiap arca di Museum Ganesya Malang.
Perhatikan arah duduknya, sikap tangannya, dan rasakan bagaimana simbol-simbol ini menuntun jiwa menuju kedamaian sejati.

Bayangkan… ribuan tahun lalu, manusia mulai menemukan cara mengubah batu dan tanah menjadi logam berkilau yang abadi, ya...
12/10/2025

Bayangkan… ribuan tahun lalu, manusia mulai menemukan cara mengubah batu dan tanah menjadi logam berkilau yang abadi, yakni Perunggu.

Dari lembah sungai di Tiongkok hingga dataran Vietnam, logam ini ditempa, dicetak, dan diwariskan. Di sana lahirlah Kebudayaan Dongson, para ahli perunggu yang meninggalkan warisan megah seperti nekara dan bejana ritual.

Teknologi dan seni itu pun menyeberang ke Nusantara, di mana para leluhur kita mengembangkannya menjadi karya unik: gamelan yang berdentang merdu, gong yang menggetarkan jiwa, hingga arca logam yang melambangkan keagungan.

Setiap benda perunggu bukan hanya alat, tapi jejak kejayaan dan kecerdikan manusia yang tak lekang waktu.

Temukan kisahnya di Museum Ganesya Malang, saksikan bagaimana logam sederhana bisa menyalakan peradaban.

Pernahkah kamu bayangkan, di tangan siapa uang logam ini pernah berpindah lebih dari 600 tahun lalu?Uang gobog, yaitu ko...
07/10/2025

Pernahkah kamu bayangkan, di tangan siapa uang logam ini pernah berpindah lebih dari 600 tahun lalu?

Uang gobog, yaitu koin kuno berbentuk bulat dengan lubang di tengah. Bukan sekadar alat tukar, ia adalah saksi bisu hubungan dagang antara Tiongkok dan Majapahit, dua peradaban besar yang saling bertukar budaya dan kekayaan.

Bayangkan menggenggam peninggalan yang dahulu mungkin digunakan oleh saudagar di pelabuhan, atau bahkan disimpan sebagai jimat keberuntungan oleh bangsawan Majapahit. Setiap goresan di permukaannya menyimpan cerita dari zaman Dinasti Han hingga Ming.

Kamu bisa temukan Uang Gobog ini di Museum Ganesya Malang. Lihat sendiri bagaimana sepotong logam kecil bisa menautkan dua dunia.

Address

Jalan Graha Kencana Raya, Banjararum, Singosari
Malang
65126

Opening Hours

Monday 09:00 - 22:00
Tuesday 09:00 - 22:00
Wednesday 09:00 - 22:00
Thursday 09:00 - 22:00
Friday 09:00 - 22:00
Saturday 09:00 - 22:00
Sunday 09:00 - 22:00

Telephone

+623414351797

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Museum Ganesya Malang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Museum

Send a message to Museum Ganesya Malang:

Share