05/12/2025
Sumur Asemkandang, Saksi Bisu Era Majapahitan Situbondo Klasik
Oleh: Irwan Kurniadi
Sebuah struktur sumur kuno di Dusun Asemkandang, Desa Buduan, Kecamatan Suboh, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur diduga merupakan peninggalan era klasik Hindu-Budha atau era Majapahit. Karakteristik bata identik dengan karakteristik artefak serupa di Trowulan, Mojokerto yang diduga ibu kota Majapahit.
Selain itu, dalam Kitab Negarakertagama pada pupuh 29 memberikan informasi mengenai perjalanan Prabu Hayam Wuruk beserta rombongan melintasi sejumlah wilayah yang saat ini terdapat di dua Kecamatan yaitu Bungatan dan Suboh di wilayah Kabupaten Situbondo.
Pupuh 29 tersebut berbunyi:
-Hanya pujangga yang menyamar Prapanca sedih tanpa upama. Berkabung kehilangan kawan kawi-Budha Panji Kertayasa. Teman bersuka ria, teman karib dalam upacara gama. Beliau dipanggil pulang, sedang mulai menggubah karya megah.
-Kusangka tetap sehat, sanggup mengantar aku ke mana juga. Beliau tahu tempat-tempat mana yang layak pantas dilihat. Rupanya sang pujangga ingin mewariskan karya megah indah. Namun mangkatlah beliau, ketika aku tiba, tak terduga.
-Itulah lantarannya aku turut berangkat ke Desa Keta. Melewati Tal tunggal, Halalang-panjang, Pacaran dari Bungatan. Sampai Toya Rungun, Walanding, terus Terapas, lalu bermalam. Paginya berangkat ke Lemah Abang, segera tiba di Keta.
Secara tekstual di dalamnya terdapat informasi tujuan perjalanan Prabu Hayam Wuruk beserta rombongan termasuk penulis kitab tersebut Mpu Prapanca yang bersedih atas kematian sahabatnya, Panji Kertayasa.
Siapakah Panji Kertayasa? Dia adalah pujangga juga yang kemungkinan besar merupakan putra daerah Keta. Diinterpretasikan, rombongan Prabu Hayam Wuruk dalam Pupuh 29 tersebut di atas melewati Tal Tunggal untuk bersegera menuju ke ke Keta. Lantaran Panji Kertayasa mangkat, Mpu Prapanca pun berkehendak turut berangkat (menyertai rombongan).
Video ini hasil sorotan pegiat c***r budaya Situbondo Zainul. Tampak dalam gambar sebuah struktur sumur kuno gaya Majapahitan. Ini salah satu bukti artefaktual tinggalan era tersebut yang masih dapat kita saksikan hari ini.
***rBudayaSitubondo