Indonesia Tempoe Doeloe Pusat Dokumenter Dan Nostalgia

Indonesia Tempoe Doeloe Pusat Dokumenter Dan Nostalgia Tempo Doeloe Dokumenter
(2)

Noesantara Tempo Doeloe Potret lawas1810 Artefak-artefak era kerajaan kadiri Bapak Soekmono (1969) menduga bahwa Candi G...
09/05/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Potret lawas1810 Artefak-artefak era kerajaan kadiri

Bapak Soekmono (1969) menduga bahwa Candi Gurah yang berada satu kompleks dengan Candi Tondowongso merupakan bangunan yang memiliki gaya khas (Kadiri stile) yang merupakan gaya peralihan antara banguanan candi gaya Jawa Tengahan dan gaya Jawa Timuran (tema nasional).

Dan ahirnya artefak dari Candi Tondowongso yg telah membali ke Kediri. Sebelumnya arca-arca ini diamankan di kantor BPCB / BPK Wilayah XI Jatim di Trowulan selama 18 tahun.

Noesantara Tempo Doeloe Pemuda Bali sedang melakukan ritual "Ngurek" (menusuk diri dengan keris di bawah alam kesadaran)...
09/05/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Pemuda Bali sedang melakukan ritual "Ngurek" (menusuk diri dengan keris di bawah alam kesadaran) di pelataran sebuah Pura sebagai suatu tradisi

09/05/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Dokumenter propaganda Jepang (1941-1945).

Perdjoempaan kaoem moeslim Soematera Baroe Kampanye Propaganda jepang yang di pimpin Buya HAMKA Haji Abdul Malik Karim Amrullah

Dokumenter propaganda Jepang tentang pertemuan besar para haji (Mekkaganger) di masjid agung Medan.

Pidato ulama Islam tentang perlunya kerja sama antara Muslim Indonesia dan Penjajaah Jepang.
Copyrigh Nippon

Noesantara Tempo Doeloe Rancang bangun Tugu Monas berdasarkan pada konsep pasangan universal yang abadi; Lingga dan Yoni...
09/05/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Rancang bangun Tugu Monas berdasarkan pada konsep pasangan universal yang abadi; Lingga dan Yoni.

Tugu obelisk yang menjulang tinggi adalah lingga yang melambangkan laki-laki, elemen maskulin yang bersifat aktif dan positif, serta melambangkan siang hari. Sementara pelataran cawan landasan obelisk adalah Yoni yang melambangkan perempuan, elemen feminin yang pasif dan negatif serta melambangkan malam hari.

Lingga dan yoni merupakan lambang kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi sedari masa prasejarah Indonesia.

Selain itu bentuk Tugu Monas juga dapat ditafsirkan sebagai sepasang "alu" dan "Lesung", alat penumbuk padi yang didapati dalam setiap rumah tangga petani tradisional Indonesia. Dengan demikian rancang bangun Monas penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Monumen terdiri atas 117,7 meter obelisk di atas landasan persegi setinggi 17 meter, pelataran cawan. Monumen ini dilapisi dengan marmer Italia.

Puncak Monas, yang dikenal sebagai "Lidah Api", terbuat dari perunggu dan dilapisi emas. Lidah api ini memiliki berat 14,5 ton dan dilapisi dengan emas 50 kg. Lidah api ini juga memiliki tinggi 14 meter dan diameter 6 meter, serta terdiri dari 77 bagian yang disatukan.

Noesantara Tempo Doeloe KUTAI BORNEO (KALIMANTAN)Tinggalan budaya masa lampau yang ditemukan dari Situs Gunung Kombeng s...
08/05/2026

Noesantara Tempo Doeloe
KUTAI BORNEO (KALIMANTAN)

Tinggalan budaya masa lampau yang ditemukan dari Situs Gunung Kombeng sulit untuk diketahui pertanggalannya.

Secara fisik dapat diketahui arca-arca batu dari situs tersebut adalah arca-arca Hindu dan arca-arca Buddha.Hal ini dapat diketahui dari atribut dan ciri-ciri fisiknya.

Mengenai pertanggalannya belum dapat diketahui karena ada tiga alasan. Pertama pada arca-arca tersebut tidak tercantum angkatahun, kedua tidak ditemukan dalam konteksnya dengan artefak lain (misalnya prasasti) yang mengindikasikan pertanggalan (baik bentuk aksara maupun penulisan angkatahun), dan ketiga belum ditemukannya arca sejenis yang sudah diketahui langgamnya untuk dijadikan acuan (reference).

Namun, apabila ditelaah dari aliran Buddha yang berkembang, yaitu Buddha Mahāyāna dapat diduga kelompok masyarakat berkegiatan di Goa Gunung Kombeng pada sekitar abad ke-8 Masehi. Dengan demikian, untuk sementara ini arca-arca tersebut dapat dikatakan berlanggam lokal Kutei yang berkembang pada abad ke-8 Masehi.

08/05/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Penjual batu akik tahun 1921 Batavia

Noesantara Tempo Doeloe Habib Luthfi Bin Yahya muda bersama salah satu gurunya, Mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyaban...
08/05/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Habib Luthfi Bin Yahya muda bersama salah satu gurunya, Mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, KH. M. Ustman bin Nadi Al-Ishaqiy Jatipurwo Semampir Surabaya

07/05/2026

Noesantara Tempo Doeloe

Bandoeng, 4 Mei 1947
Deklarasi negara Pasundan yang mencakup Provinsi Jawa Barat, Banten, dan Jakarta. Setahun kemudian tepatnya di tanggal 24 April 1948 baru di resmikan oleh Belanda menjadi bagian dari negara federal Republik Indonesia Serikat (RIS).

Pada tanggal 8 maret 1950 secara resmi negera Pasundan dibubarkan dan berintegrasi dengan Negara Republik Indonesia

Noesantara Tempo Doeloe Penangkapan Raja Bone, La Pawawoi Karaéng Sigéri, bersama tiga wanita pengikutnya. Mereka dikeli...
07/05/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Penangkapan Raja Bone, La Pawawoi Karaéng Sigéri, bersama tiga wanita pengikutnya. Mereka dikelilingi oleh tentara Marechaussee. Di belakang Raja adalah letnan satu Carel Hendrik Eilers (1870-1959), sebelah kanan yaitu Sersan Marker Eilers.Tanggal: 18-11-1905

Noesantara Tempo Doeloe Antara tutur sejarah Dan Fakta sejarah Mbah priok menjelma menjadi Habib. Tinjauan sejarawan dar...
07/05/2026

Noesantara Tempo Doeloe

Antara tutur sejarah Dan Fakta sejarah Mbah priok menjelma menjadi Habib.

Tinjauan sejarawan dari Universitas Indonesia, JJ Rizal, usai memaparkan kajiannya tentang makam Mbah Priok di hadapan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto, serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta.

Mbah Priok sebagai pedagang. Mbah Priok bekerja di sebuah kapal yang melayari antara Palembang dan Bangka Belitung,” jelas Rizal seusai mengisi “Seminar Tradisi Ziarah dalam Masyarakat Indonesia” di Auditorium Syahida Inn Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta.

Rizal mengungkapkan pada tahun1927 Mbah Priok berlayar ke Jakarta. Kedatangannya ke Jakarta adalah untuk berziarah ke makam kramat Luar Batang. Tetapi, kata Rizal, sebelum kapal yang ditumpanginya melepas jangkar di Tanjung Priok, Mbah Priok meninggal dunia.
“Kapal yang ia tumpangi mendarat di pelabuhan Tanjung Priok, bukan di pasar ikan.

Kalau pun dibilang Mbah Priok merupakan asal usul dari penamaan Tanjung Priok , fakta sejarah membuktikan itu suatu hal yang mustahil. Pada 1880-an itu pembangunan Tanjung Priok sebagai pelabuhan sudah dilakukan. Dan namanya sudah Tanjung Priok,” ungkapnya.

Mbah Priok kemudian dimakamkan di TPU Pondok Dayung. Setelah itu dipindahkan ke TPU Dobo. Dan pada 21 Agustus 1997 dipindahkan ke TPU Semper. Kemudian, oleh ahli waris nisan Mbah Priok yang berada di TPU dipindahkan kembali ke lahan eks TPU Dobo. Eks TPU Dobo itu direncanakan untuk terminal peti kemas.

Lebih lanjut Rizal memberikan bukti otentik yang terdapat dalam peta tempat-tempat suci di Batavia terbitan tahun 1823. Dalam peta itu tidak disebut makam Mbag Priok. Kemudian empat tahun kemudian, pada terbitan kedua juga tidak disebut makam Mbah Priok.

“Jadi, makam Mbah Priok itu bukan makam suci yang memang historis dan terkenal di Batavia. Bukan makam yan dianggap masyarakat memiliki karomah,” tandasnya.

Sementara, terkait ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta bekerjasama dengan Madani Institute telah menerbitkan sebuah buku yang berjudul, “Kasus “Mbah Priok”: Studi Bayani wa Tahqiq Terhadap Masalah Makam Eks TPU Dobo”. Dalam buku setebal 174 halaman itu terungkap fakta-fakta baru tentang Mbah Priok. Salah satunya seperti yang disebutkan olah JJ Rizal, yakni MUI lebih melihat almarhum Mbah Priok sebagai pelaut Palembang yang shaleh daripada sebagai dai yang menyebarkan Islam di tanah Betawi.

06/05/2026

Sudah jatuh ketimpa tangga

Address

Jalan Soekarno Hatta
Bantenan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Indonesia Tempoe Doeloe Pusat Dokumenter Dan Nostalgia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category