24/07/2014
MALAM LAILATUL QADAR DAN PENJELASAN ILMIAH.
apa rahasia NASA tentang malam mulia ini?
Tidak banyak orang yang peduli
dengan bukti ilmiah tentang
(malam) Lailatul Qadr. Setelah
mencari di mesin Google, penulis
menemukan sebuah tweet dari
akun BasongStil dengan ungkapan
“Org2 yg kerja di NASA mungkin
berasa ada yg fenomena beda pas
malam lailatul qadar, tapi mereka
bingung dan heran. Mungkin loh
ya.” Selebihnya tidak ada yang
membahas kaitan malam Lailatul
Qadar dengan NASA.
Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-
Quran dan Sunnah di Mesir, Dr.
Abdul Basith As-Sayyid
menegaskan, Badan Nasional
Antariksa Amerika (NASA) telah
menyembunyikan kepada dunia
bukti empiris ilmiah tentang
(malam) Lailatul Qadar. Ia
menyayangkan kelompok jutawan
Arab yang kurang perhatian
dengan masalah ini sehingga
dunia tidak mengetahuinya.
Menurutnya, sesuai dengan hadits
Nabi bahwa malam Lailatul Qadar
adalah “baljah” ( ﺑَﻠْﺠَﺔ); tingkat
suhunya sedang), tidak ada
bintang atau meteor jatuh ke
(atmosfer) bumi, dan pagi harinya
matahari keluar dengan tanpa
radiasi cahaya.”
Sayyid menegaskan, terbukti
secara ilmiah bahwa setiap hari
(hari-hari biasa) ada 10 bintang
dan 20 ribu meteor yang jatuh ke
atmosfer bumi, kecuali malam
Lailatul Qadar dimana tidak ada
radiasi cahaya sekalipun. Hal ini
sudah pernah ditemukan Badan
Antariksa NASA 10 tahun lalu.
Namun mereka enggan
mempublikasikan nya dengan
alasan agar non Muslim tidak
tertarik masuk Islam. Statemen ini
mengutip ucapan seorang pakar di
NASA Carner, seperti yang dikutip
oleh harian Al-Wafd Mesir.
Abdul Basith Sayyid, Kepala
Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran
dan Sunnah di Mesir, Dr. Abdul
Basith As-Sayyid dalam sebuah
program di TV Mesir
Sayyid juga menegaskan, pakar
Carner akhirnya masuk Islam dan
harus kehilangan jabatannya di
NASA. Ini bukan pertama kalinya,
NASA mendapatkan kritikan dari
pakar Islam. Pakar geologi Islam
Zaglol Najjar pernah menegaskan,
NASA pernah me-remove satu
halaman di situs resminya yang
pernah dipublish selama 21 hari.
Halaman itu tentang hasil ilmiah
yakni cahaya aneh yang tidak
terbatas dari Ka’bah di Baitullah ke
Baitul Makmur di langit.
Sayyid menegaskan, “jendela” yang
berada di langit itu mirip yang
disebutkan dalam Al-Quran.
ﻭَﻟَﻮْ ﻓَﺘْﺤﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺑَﺎﺑًﺎ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀ ﻓَﻈَﻠُّﻮﺍ ﻓِﻴﻪِ
ﻳَﻌْﺮُﺟُﻮﻥَ ﻟَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺳُﻜِّﺮَﺕْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭﻧَﺎ ﺑَﻞْ
ﻧَﺤْﻦُ ﻗَﻮْﻡ ﻣَﺴْﺤُﻮﺭُﻭﻥَ }
“Dan jika seandainya Kami
membukakan kepada mereka
salah satu dari (pintu-pintu) langit,
lalu mereka terus menerus naik ke
atasnya. tentulah mereka berkata:
“Sesungguhnya pandangan
kamilah yang dikaburkan, bahkan
kami adalah orang orang yang
kena sihir”.” (Al-Hijr: 14)
Saat itu Carner dengan bukti jelas
bahwa jagat raya saat itu gelap
setelah “jendela” itu tersibak.
Karenanya, setelah itu Carner
mendeklarasikan keislamannya.
Setelah Carnar masuk Islam, ia
menafsirkan fenomena “mencium
Hajar Aswad” atau mengisyaratkan
kepadanya – seperti turut Abdul
Basith Sayyid – bahwa batu itu
merekam semua orang
mengisyaratkan kepadanya
(dengan lambaian tangan) atau
menciumnya. Carner juga
mengungkapkan tentang sebagian
potongan Hajar Aswad yang
pernah dicuri. Setelah 12 tahun
diteliti, seorang pakar museum
Inggris menegaskan bahwa batu
tersebut memang bukan dari
planet tata surya Matahari.
Carnar kemudian mendatangi
pakar Inggris itu dan melihat
sample Hajar Aswad sebesar biji
(kacang) hims. Ia menemukan
bahwa batu itu melancarkan
gelombang pendek sebanyak 20
radiasi yang tidak terlihat ke segala
arah. Setiap radiasi menembus 10
ribu kaki. Karena itu, tegas Sayyid
Abdul Basith, Imam Syafi’i
menyatakan bahwa Hajar Aswad
mencatat nama setiap orang yang
mengunjunginya baik dalam haji
atau umroh sekali saja. Carner
menambahkan, batu itu mampu
mencatat nama-nama orang yang
berhaji dengan radiasi
gelombangnya.
arrum arr