Yayasan Janur

Yayasan Janur Yayasan Janur bergerak di bidang penelitian dan pemberdayaan masyarakat berbasis kebudayaan dengan m Pembina Yayasan:
Unggul Sudrajat, S.S.

Pengawas Yayasan:
Kurniawan Widiyantoro, S.S. Ketua Yayasan:
Faris Rusydi Aliyverdana, S.S. Sekretaris Yayasan:
Nurmita Arum Sari, S.S. Bendahara Yayasan:
Nur Aini Kusmayanti, S.Gz. Kepala Departemen Humas & Dana Usaha:
Ratnasari Putri Utami, S.Sos. Kepala Departemen Media & Advokasi:
Wisnu Prasetya Utomo, S.IP. Kepala Departemen Riset & Program:
Wildan Sena Utama, S.S. Kepala Departemen Pemberday

aan Masyarakat:
Gilang Tri Subekti, S.S. Kepala Bidang Kreatif & Publikasi:
Rizky Herdiansyah, S.Hut.

01/03/2016

Kabar dari mbak Samantha Aditya (Yogyakarta Night At The Museum) menarik nih! Sila disimak :

Yuk ke Museum Benteng Vredeburg dari tanggal 1-6 Maret. Ada apa ya?
Karena hari ini Pameran Temporer Peringatan Serangan Umum 1 Maret sudah dibuka..
Pamerannya diselenggerakan oleh beberapa museum di Yogyakarta, komunitas keren Djokdjakarta 1945, dan Yogyakarta Night at The Museum. Hehe dua komunitas ini juga membantu terselenggaranya pameran ini loh :)
Mau foto bisa, mau jalan2 bisaa banget, mau main games apalagi, mau nonton film jugaaa bisyaa..
Acara ini ditutup dengan pertunjukkan Teaterikal Sejarah yang menggebrak dahsyaat dari Komunitas Djokdjakarta 1945 pada tanggal 6 Maret. Penasaran? Stay tune ya.. :D
Ayo ke Museum Benteng Vredeburg
Salam sahabat museum!

Woro-WoroRekan-rekan semua, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kem...
04/12/2015

Woro-Woro

Rekan-rekan semua, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Pusat Studi Kebudayaan Ugm akan menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema "Pembangunan dalam Perspektif Kebudayaan". Seminar insya Allah akan dilaksanakan selama 3 hari, 6-8 Desember 2015 di Hotel Santika Premiere, Yogyakarta.
*
Ada 9 pembicara dalam seminar tersebut yaitu: Prof. Dr. Bambang Purwanto, MA., Dr. Yulianto P Winarno, MM., M.Si., Prof. Suyanto, Ph.D., Dr Aprinus Salam, Dr. Jamhari, S.P., M.P., Prof. Ir. Bakti Setiawan, MA., Ph.D., Dr. Deendarlianto, M.Eng., Prof. Dr. Irwan Abdullah, M.A., dan Walikota Pekalongan.
*
Kami masih memiliki slot untuk 10 orang peserta baik dari umum maupun perwakilan lembaga. Panitia hanya memberikan fasilitas berupa sertifikat dan konsumsi selama kegiatan berlangsung. Silahkan bagi rekan-rekan yang tertarik untuk menghubungi saya via pesan FB, WA/SMS (+6281392611599).

Nb. Acara Gratis
Sila disebarkan, salam budaya,
unggul sudrajat

10/11/2014

Ucapan selamat barangkali hanya digunakan untuk manusia yang baru saja mengulang hari kelahirannya atau para mahasiswa yang lulus lebih dari 6 tahun. Ucapan selamat terlalu sentimentil diucapkan an...

Kami segenap keluarga besar Jaringan Budaya Nusantara (JANUR) memohon maaf atas segala salah dan khilaf di masa lalu, se...
01/08/2014

Kami segenap keluarga besar Jaringan Budaya Nusantara (JANUR) memohon maaf atas segala salah dan khilaf di masa lalu, semoga pintu maaf menjadi jalinan erat tali silaturahmi di masa mendatang..

Taqabalallahu minna wa minkum, selamat merayakan idul fitri, salam hangat dari kami untuk keluarga di rumah.. :)

Salam budaya!

Museum Sonobudoyo, Yogyakarta http://wp.me/p2v6MU-22
23/06/2014

Museum Sonobudoyo, Yogyakarta http://wp.me/p2v6MU-22

Museum ini didirikan oleh Java Instituut yang memiliki tujuan melestarikan kebudayaan Nusantara. Pada 6 November 1935 museum ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, hal ini ditandai dengan candrasengkala “Kayu Winayang Ing Brahmana Budha” yang… [ 47 more words. ]

22/01/2014

ADA KERIS OBAMA DI UJUNG MADURA
Oleh: Indira Permanasari

Gerinda dan pahat para empu keris terus berdentang di Desa Palongan, Sumenep, Madura. Di ujung ”Pulau Garam” itu, ragam keris lahir dari tangan para perajin yang lihai bermain dengan logam.

”Ini namanya keris dapur Nogo Siluman. Kepalanya naga, tetapi ekornya tidak jelas. Nah, yang ini keris Nogo Sosro karena ekornya jelas,” ujar Fathurrahman, Ketua Ikatan Pengrajin Keris Indonesia (IPKI) Megaremeng, Sumenep, sambil mengangkat dan memperlihatkan bilah-bilah tajam keris berpahat motif kepala naga. Dia sekadar mencontohkan bentuk dan tipe keris.

Di hadapannya berderet ragam keris, mulai dari yang setengah jadi hingga keris yang sudah jadi sempurna dengan bilah, pegangan, dan sarung telah berdandan ukiran. Di atas selembar kain putih, deretan keris itu berwibawa dan indah.

Seorang perajin keris lainnya, Hermanto (41), menuturkan, keris Madura memiliki ciri khas antara lain logam keris sangat keras dan pamornya agak seram. ”Keris Madura kesannya angker,” ujar Hermanto.

Pamor atau lapisan berpola acak atau figuratif yang tampak pada bilah keris ikut menentukan nilai sebuah keris. Kelebihan lainnya adalah kehalusan pahatan detail ornamen pada keris. ”Mau buat gambar apa saja bisa. Saya baru saja buat pahatan gambar Obama di pangkal keris. Pesanan kolektor dari Jakarta,” ujar Hermanto. Para empu di desa itu sanggup mencipta ragam keris, mulai dari gaya Jawa, Bali, hingga Bugis. Hermanto sengaja mengoleksi keris dari banyak daerah untuk menambah referensi.

Fathurrahman dan Hermanto adalah segelintir dari ratusan empu keris di Desa Palongan, Kecamatan Bluto, Sumenep. Fathurrahman mengatakan, pelaku budaya keris paling banyak di Kabupaten Sumenep tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Bluto, Saronggi, dan Lenteng Barat. Setidaknya ada 544 empu keris tersebar di 14 desa. Di Kecamatan Bluto saja terdapat 305 perajin. Sentra besar lainnya ialah Kecamatan Saronggi, terutama di Desa Aeng Tong Tong.

Sumenep pun lantas disebut-sebut sebagai produsen keris terbesar dengan empu terbanyak di Asia Tenggara. Keris memang bukan hanya milik kultur Jawa, melainkan juga meluas di kultur Melayu. UNESCO telah menetapkan keris Indonesia sebagai Karya Agung Warisan Kemanusiaan (Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 25 November 2005.

Dari teras-teras rumah penduduk Desa Palongan terdengar raungan mesin-mesin gerinda yang tengah menghaluskan dan membentuk bilah keris pada pertengahan Desember lalu. Api memercik ketika perajin keris menggesekkan besi tipis ke gerinda. Ada p**a perajin yang sedang memahat ornamen dengan alat pahat.

Jago Olah Logam

Keris melambangkan kemahiran mengolah logam. Untuk menghasilkan sebilah keris, butuh proses panjang. Potongan logam awalnya ditumpuk, biasanya dengan urutan: besi, nikel, baja di tengah, nikel, dan besi. ”Bahan tergantung pemesan, minta dibuatkan pola dan pamor seperti apa. Selalu ada besi. Kalau sama-sama baja, akan terlalu keras. Sulit untuk diukir,” ujar Fathurrahman.

Susunan ini lalu dibakar dan ditempa. Hasil tempaan itu lalu dilipat dan ditempa ulang. Di Sumenep, bahan awal keris disebut khodokan. ”Di Kecamatan Lenteng, banyak yang membuat tempaan awal atau khodokan. Yang dulunya bikin arit, diajari bikin keris,” ujar Fathurrahman.

Para empu atau pande alusan di Bluto dan Saronggi kemudian menggarap lebih lanjut detail keris. Bilah-bilah dibentuk berkelok (luk) atau lurus dengan bantuan gerinda atau alat pahat. Pangkal-pangkal keris diberi ornamen sesuai tipe keris klasik yang telah ada atau pesanan pelanggan. Setelah itu keris direndam dalam cairan walirang dan warangan demi mengeluarkan pamor. Ada juga pemesan yang ingin keris berkesan tua. Proses penuaan dengan bahan kimia butuh sekitar satu bulan.

”Satu buah keris dengan banyak detail, garapannya selesai kira-kira dua minggu. Itu saya bekerja mulai dari pagi hingga sore setiap hari,” ujar Hermanto.

Setelah itu keris dilengkapi dengan sarung (warangka) dan pegangan yang antara lain terbuat dari kayu bintaos, cendana, kemuning, sawo, mimba, dan asem. Harga sarung keris bergantung pada jenis kayu, mulai dari sarung kelas kodian dari kayu sawo seharga Rp 15.000 hingga sarung dari kayu cendana yang harganya jutaan rupiah.

Pemesan terkadang ingin melapisi kerisnya dengan emas. ”Mereka beli emasnya sendiri atau diserahi ke perajin. Emas 23 atau 24 karat yang sering dipakai. Tinggal tambah biaya emasnya saja,” ujar Hermanto.

Jiwa Sebilah Keris

Harga sebilah keris, kata Fathurrahman, bergantung pada tingkat kesulitan pembuatan, detail-detail ricikan, pamor, dan besinya. Keris karya perajin di Palongan harganya bisa jutaan hingga puluhan juta. Hermanto, misalnya, biasa mendapat pesanan dari kolektor di Jakarta yang bersedia membayar jutaan rupiah untuk sebilah keris.

Ada juga produksi keris kelas kodian yang dijual dalam rentang harga ratusan ribu rupiah. ”Jualnya partai besar. Perajinnya dalam sehari bisa membuat sampai lima keris,” ujar Hermanto.

Akan tetapi, sebilah keris tak hanya dinilai fisiknya. Bahkan, terkadang kisah dan anggapan kekuatan magisnya bernilai lebih besar. Fathurrahman mengatakan, terkadang pemesan meminta keris yang bertuah dari para empu. Untuk itu, bakal diadakan ritual.

”Ritual itu warisan dari leluhur. Sebelum penempaan awal, biasanya ditabur bunga. Ada juga tumpeng agung yang diumpamakan kekuasaan Tuhan yang Maha Agung. Di balik ritual itu, disampaikan permohonan kepada Yang Maha Kuasa,” ujar Fathurrahman yang mempelajari p**a Serat Centhini untuk pembuatan ritual pusaka. Baru saja Fathurrahman mendapatkan pesanan pusaka. Para pemesan itu mengirim nama dan tanggal lahirnya untuk keperluan ritual. ”Ya, itu ada hitungan dan rumusnya,” ujarnya.

Ritual dilengkapi dengan sesajen, seperti jajan pasar, kembang, buah-buahan, dan tajin nasi jagung, ketan hitam, ataupun kacang hijau. Inti seluruh sesajen adalah doa empu kepada Yang Maha Esa yang diwakilkan dengan kehadiran tumpeng dengan harapan mendapatkan hasil yang baik bagi empu dan pemesan pusaka (lihat Spirit of Iron; The Life Story of Kris Crafters from Sumenep, Madura, Unggul Sudrajat dkk).

Di masa modern, kehadiran keris memang lebih sebagai benda yang luhur ketimbang senjata. Seni, identitas, kisah, dan simbol menjadi jiwa di dalamnya.

[Kompas, 20 Januari 2014]

-----

Alhamdulillah, keris Sumenep mendapat publikasi sekali lagi, apabila ingin mendapatkan buku "Spirit of Iron: The Life Story of Kris Crafters from Sumenep" dan menyelenggarakan diskusi / screening film dokumenter "Spirit of Iron" dapat menghubungi kami.

Salam. :)

13/12/2013

berbagai acara kebudayaan akan digelar ditempat ini seperti campursari, jathilan, hingga kirab budaya akan dilaksanaka pada hari minggu, 15 desember 2013

13/12/2013

bsk malam hingga minggu akan digelar festival kebudayaan

13/12/2013

malam ini hingga bsk sore akan berlangsung workshop penggunaan sistem informasi desa.

13/12/2013

pada hari ini hingga minggu siang akan berlangsung acara greget desa dan nglanggeran culture festival yang berlangsung di wisata gunung purba nglanggeran gunungkidul

02/12/2013

berita yang menyedihkan... :(
-----

= Kaum Muda Tidak Minati Pameran Keris =

Kaum muda tidak berminat mengenal keris sebagai pusaka tradisional. Hal itu terjadi akibat minimnya pengenalan dan pendidikan yang tepat terhadap pusaka tradisional di Indonesia.
Minimnya minat kaum muda terhadap keris itu tampak dari sedikitnya kunjungan pelajar dan mahasiswa pada pameran keris Gebyar Pusaka Nusantara 2013 di Museum Jawa Tengah Ranggawarsita, Semarang, yang berakhir Minggu (1/12). Dalam pameran yang digelar sejak Selasa lalu itu, lebih dari 300 keris koleksi dari 20 paguyuban dan 10 empu keris yang masih berproduksi ditampilkan.

Awalnya, panitia pameran itu membidik pelajar dan mahasiswa dengan target kunjungan sekitar 6.000 orang. ”Namun, hingga hari terakhir total kunjungan hanya mencapai 1.000 orang. Itu pun didominasi kaum tua yang sudah menjadi penghobi keris,” kata panitia pameran, Asdar Winata, di Semarang, Minggu.

Menurut Asdar, televisi yang menyiarkan drama kolosal menjadi salah satu penyebab munculnya pemahaman yang salah terhadap keris. ”Di televisi kerap dimunculkan kekuatan mistis sebuah keris. Saat tokoh bertarung memakai keris, ada gambaran naga atau macan yang keluar. Itu pembodohan massal. Tak pernah ada macan atau naga keluar dari keris,” ujar Asdar.

Pembuat keris, Empu Subandi Suponingrat, menambahkan, pemahaman yang salah terhadap keris antara lain karena warisan leluhur itu selalu diidentikkan dengan kekuatan mistis. (ger)

[Kompas, 2 Desember 2013]

= Uke Kurniawan: Menggoreskan Riwayat Batik Banten =Oleh: Gregorius Magnus Finesso KETIKA  daya imajinasi berpadu dengan...
02/12/2013

= Uke Kurniawan: Menggoreskan Riwayat Batik Banten =

Oleh: Gregorius Magnus Finesso


KETIKA daya imajinasi berpadu dengan kreativitas, sebuah karya pun tercipta. Itu p**a yang mendorong Uke Kurniawan (55) mengaplikasikan motif-motif artefak warisan Banten kuno ke dalam lembaran kain. Riwayat batik banten kembali dituliskan.

Kecintaan Uke pada ragam hias sudah dimulai sejak masih berdinas di Kementerian Pekerjaan Umum dan bertugas di Bengkulu. Pada 1980-an, pemerintah saat itu mendorong setiap bangunan pemerintahan di daerah bercorak budaya lokal.

”Saat itu, saya dan sejumlah teman menggabungkan ornamen bunga raflesia yang ada di Bengkulu dengan huruf Arab gundul sehingga menjadi batik besurek. Motif itu kemudian dijadikan ornamen untuk bangunan- bangunan di Bengkulu,” ujar Uke.

Tak berhenti di sini, dalam sebuah ajang sayembara ragam hias antardaerah di Yogyakarta pada 1989, motif yang dibuat Uke saat itu berhasil menyabet predikat juara pertama. Prestasi itu semakin membuatnya percaya diri.

Hingga 1992 takdir menuntun Uke ke jalan lain. Saat itu ia divonis menderita stroke ringan. Bahkan, tim dokter memvonis dirinya baru benar-benar bisa sembuh setelah menjalani perawatan intensif selama empat tahun. Hal itu yang membuatnya terpaksa mengajukan pensiun dini dari statusnya sebagai pegawai negeri sipil.

Namun, mukjizat terjadi. Dalam waktu enam bulan, Uke sembuh. Ia lalu memutuskan p**ang kampung ke Kota Serang, Banten, menjadi konsultan arsitek dan teknik sipil.

Persinggungannya dengan dunia batik muncul saat dia diminta bergabung dalam tim konsultan untuk perencanaan pembangunan Anjungan Banten di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan rancang bangun rumah adat Banten. Pasalnya, sejak 2000, Banten yang semula menjadi bagian Provinsi Jawa Barat diputuskan menjadi daerah otonomi baru.

Di sini Uke mengenal sejumlah arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Universitas Indonesia (UI). Salah satunya arkeolog senior Indonesia, Prof Dr H Hasan Muarif Ambary.


Rekonstruksi artefak
Melalui rekonstruksi benda purbakala yang sebagian hasil ekskavasi Tim Arkeologi Nasional dan UI sejak 1976, didapatkan sebanyak 75 motif asli Banten. Motif-motif itu dikukuhkan pemerintah provinsi melalui Surat Keputusan Gubernur Banten No 420/SK-RH/III/2003 tanggal 12 Maret 2003 yang saat itu dijabat Djoko Munandar.

”Dari ribuan ragam hias, dipilih 75 motif. Sebagian besar motif diambil dari artefak non-glasir dari abad ke-17,” ungkap Uke.

Selanjutnya, dibentuk panitia peneliti batik banten untuk melakukan pengkajian motif. Waktu itu Uke menjabat sebagai sekretaris tim. Mereka melakukan studi banding ke Pekalongan dan Solo, terutama untuk melihat desain dan warna yang digunakan pada batik kedua daerah tersebut.

”Setelah studi banding, kami mulai membuat contoh batik yang akan diproduksi. Kemudian, produk batik itu dipatenkan untuk mendapat HKI (hak kekayaan intelektual). Ternyata untuk klasifikasi motif batik, batik banten yang pertama dipatenkan,” katanya.

Keyakinan Uke semakin menguat saat awal 2005 menerima undangan mengikuti pertemuan para arkeolog dari 52 negara di Malaysia. Tim dari Indonesia membawa hasil kajian mengenai batik banten dan memperoleh predikat terbaik.

Berdasarkan penelitian, sebetulnya ditemukan 75 ragam hias fragmen kreweng Banten yang berbentuk tumpal dan belah ketupat sebagai motif batik. Namun, pada tahap awal, hanya 12 motif yang diproduksi, yaitu datulaya, pamaranggen, pasulaman, kapurban, pancaniti, mandalikan, pasepen, surasowan, kawangsan, srimanganti, sabakingking, dan pejantren. Nama-nama tersebut mengambil nama dari tempat dan gelar dalam sejarah Kesultanan Banten.

Dengan kepiawaiannya mendesain, Uke mulai merangkai ragam hias tersebut dalam batik.

Di tengah perdebatan mengenai ada tidaknya tradisi membatik di Banten pada masa lalu, ia memberanikan diri menggugat. Apakah Banten tak boleh memiliki kebanggaan karena memilih batik yang bercorak pada akar sejarahnya?

Ia menjawab gugatan itu dengan merintis usaha batik banten sejak 2004. Saat memulai usaha, ia mendapat dana pendampingan dari PT Jamsostek (Persero) dan PT Krakatau Steel.

Awalnya, Uke memesan alat cap batik ke Pekalongan. Ia juga mendatangkan sejumlah ahli membatik untuk menularkan kemampuan membatiknya kepada para remaja di sekitar Kota Serang, Banten.

Dengan bendera PT Batik Banten Mukarnas, ia mencari tenaga-tenaga perajin ke seluruh penjuru Banten. Awalnya, Uke hanya memiliki puluhan karyawan. Kini, jumlah karyawannya ratusan orang.

”Awalnya masyarakat kurang antusias, tetapi seiring perkembangannya, mereka penasaran dan tertarik belajar membuat batik banten,” katanya.

Apa yang membedakan warna batik banten dengan daerah lain? Menurut Uke, warna khas batik banten cenderung abu-abu lembut. Ini dipengaruhi air tanah di wilayah Banten yang relatif banyak mengandung zat besi.


Andil bagi perajin
Uke juga memiliki andil terhadap menggeliatnya kerajinan batik di Indonesia. Pada 22 Desember 2004, saat dilangsungkan konvensi batik se-Indonesia, ia mengajukan saran kepada Menteri Perindustrian saat itu, Andung Nitimihardja, untuk mengimbau instansi di setiap daerah menggunakan batik produknya sekali dalam seminggu.

Sebulan berselang, pada 31 Januari 2005 dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 34/M/I/2005 mengenai imbauan penggunaan produk tenun tradisional, batik khas daerah. ”Imbauan itu terbukti membuat perajin batik kembali bergairah.”

Setelah sekitar delapan tahun merintis usaha, sudah 40 motif batik Banten dia patenkan. Selain dipasarkan di wilayah Serang dan sekitarnya, batik banten juga mulai dilirik pembeli asal Jerman dan Perancis. Uke pun menjalin kerja sama pemasaran dengan sejumlah pihak. Dalam sebulan ia bisa membuat hingga 300 kain batik cap dan tulis dengan omzet rata-rata Rp 150 juta.

Tak hanya memproduksi batik, ia juga menjadikan gerainya sebagai sentra pelatihan membatik bagi pelajar. Hampir setiap bulan, ratusan siswa mulai TK hingga SMA memadati ruang pamer Batik Banten untuk pelatihan membatik dan pengetahuan wirausaha.

”Saya ingin menumbuhkan kecintaan anak muda terhadap batik yang lahir dari tanah kelahiran mereka sendiri,” ucapnya.

Satu hal yang membuatnya bangga. Dunia internasional menjuluki batik banten sebagai the cloth tell stories (kain yang menceritakan sejarah) dan Uke menjadi bagian tak terpisah.

—————————————————————————
Uke Kurniawan
♦ Lahir: Serang, Banten, 16 November 1958
♦ Pendidikan:
- S-1 Ekonomi Universitas Sriwijaya
- S-1 Teknik Sipil Universitas Bengkulu
♦ Istri: Nani Suryani (45)
♦ Anak:- Asriyana (16)
- Icha Raidya (12)
♦ Pekerjaan: Direktur PT Batik Banten Mukarnas
♦ Organisasi:
- Ketua Koperasi Paguyuban Batik Banten
- Anggota Asosiasi Batik Banten



[Kompas, 2 Desember 2013]

Address

Pengok Kidul IV/No. 1088
Yogyakarta City
55225

Opening Hours

Monday 08:00 - 16:00
Tuesday 08:00 - 16:00
Wednesday 08:00 - 16:00
Thursday 08:00 - 16:00
Friday 08:00 - 16:00
Saturday 08:00 - 16:00

Telephone

+628562865537

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan Janur posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Museum

Send a message to Yayasan Janur:

Share