Om Yayok Gallery

Om Yayok Gallery Becak,sepeda,kayu adalah material utama dlm berkarya, merekayasa materi tsb menjadi aneka Craft yg berguna untuk aksesori hotel/kantor atau rmh pribadi.
(3)

07/02/2018

Masih jualan kursi sedan, minat WA saja ya 081329122864

19/01/2018

Hot sale, segera inbox tuk dapat harga khusus ya..

16/11/2017

Open order gaes, meja toping kayu jati londo 60x100cm dgn kaki mesin jahit bisa warna apa saja....cukup 800rb saja.. :)

25/10/2017

Kayu jati londo mempunyai serat kayu yg unik bagus untuk dekorasi dan mebel ringan....mengolah kembali menjadi produk yg bermanfaat adalah ke asyikkan tersendiri...

16/09/2017

Merespon barang disekitar untuk menjadikan lebih bermanfaat, perahu ini sdh lapuk dan akan lebih bermartabat bila direposisi menjadi ikon resto dan selfi spot yg keren...

01/09/2017

terus berkarya mural lukisan dinding ...

17/10/2016

Waton Urip
Karya Sindhunata, Agus Leonardus, dan Ong Hari Wahyu

Terbit November 2005 oleh NineArt Publishing, Yogya | Binding: Art Paper | ISBN: – | Halaman: 144

SETIAP kali pulang ke Yogya, aku selalu sengaja naik becak. Iya, becak yang asal katanya berasal dari bahasa Hokkien: be chia yang artinya “kereta kuda”. Alasan kenapa aku repot mencari alat transportasi tanpa polusi itu karena becak sudah tidak ada lagi di kota sebesar Jakarta. Mungkin ada di pinggiran atau di kota satelit, tetapi pasti tidak ada lagi di jalan-jalan raya. Saat naik becak, jarang kupikirkan bahwa naik becak adalah sebuah penindasan. Naik becak ya naik becak, ada interaksi antara yang menumpang dan yang mengendarai. Ada kegembiraan dalam setiap genjotan baik di diri abang becak maupun padaku. Malah kalau dipikir-pikir, nasibku justru ada di kuasa tangan dan kaki abang becak yang membawaku ke tempat tujuan.

Sesekali kusenandungkan lagu riang “Naik Becak” karya Ibu Soed yang liriknya begini:
saya mau tamasya
berkeliling keliling kota
hendak melihat-lihat keramaian yang ada
saya panggilkan becak
kereta tak berkuda
becak, becak, coba bawa saya

saya duduk sendiri sambil mengangkat kaki
melihat dengan asyik
ke kanan dan ke kiri
lihat becakku lari
bagaikan tak berhenti
becak, becak, jalan hati-hati

Rupa-rupanya, aku bukan satu-satunya penggila becak. Adalah Sindhunata, Agus Leonardus, dan Ong Hari Wahyu secara serius melakukan perekaman gambar, pengamatan sosio-ekonomis, hingga mencari makna filosofis dari keberadaan becak. Hasilnya mereka tuangkan dalam buku [Waton Urip ini.

“Mbecak” atau mengayuh becak menurut pendapat Sindhunata, disadari oleh para pengayuhnya bahwa bukanlah jalan menjadi kaya. Tetapi “mbecak” berarti rezekinya selalu mengalir tak putus-putus karena menganut “waton urip” yang janganlah diartikan semata “asal hidup” tapi “hidup tanpa memberontak terhadap hidup”. Tukang becak, seperti pendapat Sindhunata, mengajarkan kita untuk menerima apa yang diberikan oleh kehidupan, tapi jangan meminta apa yang tak diberikan oleh kehidupan. Sebuah filosofi sederhana, bukan bermakna pasrah, karena konsep “nrimo” sebenarnya mengandung energi perjuangan bagi orang yang mengerti betul makna dan falsafahnya.

Mereka berjuang di tengah kerasnya hidup, kemiskinan yang melingkupinya, bahkan berani hidup tanpa memberontak pada kehidupan. Strateginya adalah memaksimalkan kekuatan-kekuatan unik seperti solidaritas sosial, keberanian, keuletan, integritas, kebaikan hati, pengendalian diri, dan rendah hati. Inilah rupanya yang mampu membuat tukang becak Yogya meloloskan diri dari kekejaman dunia.

Coba contoh pola pikir Bu Ponirah. Ia salah seorang penarik becak perempuan. Di sini, ia bercerita tentang kegiatannya di waktu senggang, menonton sinetron.

“Saya ini orang miskin. Sudah miskin, mengapa harus nyetel yang susah-susah. Nanti malah tambah susah. Karena itu saya nyetel yang enak-enak dan senang-senang saja. Apa dengan menyetel pemandangan dan kehidupan yang kaya itu, Ponirah juga ingin kaya? Dari mana saya bisa? Bagi saya, kaya itu ya kalau saya tidak punya utang lagi. Tapi kapan?”

Bu Ponirah memberikan cermin sosial padaku, yang belakangan ini baru mengerti tabiat dan alasan orang-orang menceburkan diri pada tontonan sinetron. Sebagaimana kutipan-kutipan berikut ini juga ikut menambah pokok permenungan bagiku, karena para tukang becak pun ternyata memiliki pemikiran dan pedoman tersendiri yang tidak kalah dari filuf-filsuf tekenal. Mereka adalah Plato atau Descartes bagi diri mereka sendiri.

“Pokoke, nek dadi tukang becak niku ampun nggrangsang (Pokoknya, kalau jadi tukang becak itu, jangan serakah),” kata Paidi, tukang becak yang pakaiannya selalu rapih.

Bukankah keserakahan itu sumber dari degradasi kemanusiaan manusia? Lebih lanjut bagaimana menyikapi rasa serakah itu, Pak Kliwon tukang becak yang lain menambahkan dengan kalimatnya sendiri.

“Kalau kurang, siapapun selalu kurang. Orang kaya juga selalu kurang, dan dalam hal kekurangan, jangan kita membandingkan dengan mereka yang kelebihan. Tengoklah ke bawah, jangan ke atas. Di bawah kita juga banyak wong kere yang lebih tidak enak daripada kita. Mereka belum tentu bisa makan seperti kita. Maka syukur sebagai tukang becak pun, kita masih bisa makan”

Luar biasa bukan yang dapat kita pelajari dari becak?

21/09/2016

sofa becak, asik juga dipasang di teras...

21/09/2016

Becak solo, adalah alat transportasi lawas yang masih bertahan di kota Solo dan beberapa kota lain di Indonesia tetapi seiring kemajuan jaman Becak semakin tergeser di pinggiran dan penariknya tidak terjadi regenerasi. alat transportasi idola ibu-ibu ini perlahan tapi pasti akan punah secara alami.

saya secara pribadi sangat mengagumi bentuk dan rancangan aerodinamisnya Becak ini, sangat simple dan artistik.

atas dasar pemikiran ini saya mencoba "memuseumkan" becak ini dengan cara membeli di penampungan besi tua kemudian merenovasi utuh kembali sehingga layak jalan dan indah sedangkan onderdil yang tidak bisa disatukan saya coba rekayasa menjadi sesuatu yang berguna...

apakah anda juga ingin memuseumkan Becak ini??

20/09/2016

Om Yayok Gallery's cover photo

20/09/2016

solo

20/09/2016

tukang becak beraksi....

20/09/2016

Om Yayok Gallery

Address

Jl. Ketelan Gg 4 Nomor 12
Surakarta
57132

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Telephone

081329122864

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Om Yayok Gallery posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share


Other Museums/Art Galleries in Surakarta

Show All

You may also like